Lazada Indonesia

Frame Foto Multimudia (Alnect Computer)

Saat ini banyak barang diproduksi serba digital. Mulai dari kamera, arloji, atau pemutar MP4. Sebagai alat pemajang foto, muncul frame digital. Tanpa perlu mencetak foto dan membongkar frame, file foto digital bisa dimasukkan ke dalam input memori di dalamnya dan langsung tertampil di layar.

Frame foto Spectra SPF-A720R adalah salah satu pemainnya. Dengan berat hanya 350 gram, frame digital ini mampu menampilkan foto pada layar tujuh inchi. Dimensinya 205,8 mm x 138,8 mm x 39 mm. Resolusi layar sebesar 480 x 234 piksel dengan kontras 250 : 1 pada aspek rasio 16 : 9. Kedalaman tampilan mencapai 262.144 warna pada layar LCD TFT. Suplai energi menggunakan AC adapter.

Produk ini mendukung file foto sampai ukuran 12 megapiksel dengan format JPEG. Tersedia menu slide show bila ingin otomatis mengubah tampilan foto yang dipajang. Disediakan pula remote control untuk mempermudah pengoperasian.

Tidak hanya itu. File MP3 dan MPEG4 bisa pula diputar melalui Spectra SPF-A72. Bagi penggemar musik maupun video, produk ini bisa menjadi pilihan. Tersedia slot expand untuk SD, MMC, MS, Micro Stick Pro, dan CF Type I. Interface-nya terdiri atas AV Out, USB 2.0 High Speed, dan 3.5'' Audio Line Out (Headphone Out).

Produk ini bisa diperoleh dengan harga pada kisaran 895 ribu. Dengan membeli produk ini, disediakan garansi purna jual selama satu tahun. Bagi pecinta musik dan video yang memerlukan frame digital, Spectra SPF-A720R bisa menjadi pilihan. Review selengkapnya bisa dibaca melalui http://www.alnect.net/products.php?/10/67/134/222/Gadget/Digital_Photo_Frame/Spectra_Camera/Photo_Frame_Spectra_SPF-A720R .

Alnect computer Blog Contest


Pesta Omset di Pesta Demokrasi

Pesta demokrasi tidak lama lagi digelar. Even lima tahunan tersebut senantiasa berujung pada penggunaan dana yang besar. Bagi caleg dan partai, misalnya, dana besar dibutuhkan untuk sosialiasasi program dan personal demi mendekatkan diri ke rakyat. Tidak mencengangkan bila mendekati even pemilu, banyak ditemukan media promosi terpampang sepanjang jalan.

Upaya sosialisasi juga ditempuh dengan membuat kaos massal. Partai dan caleg sering memesan kaos dalam jumlah besar untuk dibagikan. Begitu pula dengan stiker dan pin, banyak disematkan para kader di berbagai aset pribadinya untuk sekedar sosialisasi nomer urut partai atau caleg.

Pergerakan uang dalam bisnis pemilu ini tidak sedikit. Evergreen, misalnya, mendapat order kaos melimpah sejak akhir 2008 dari para caleg dan partai. Namun perusahaan konveksi di Solo ini tidak mengerjakan kaos partai yang murah dan tipis.

“Saya memang selektif dalam menerima order. Saya terima order untuk kaos dengan kelas medium ke atas,” ujar Zen Zulkarnaen, pemilik CV Evergreen. “Biasanya mereka memilih kaos yang seharga 17 ribu per buah. Itu harga yang paling murah di sini,” lanjutnya.

Zen sengaja tidak bermain di order kaos partai massal yang tipis. Menurutnya, pemain kaos massal nan murah ini sudah terlalu banyak. Dengan kaos berkualitas menengah ke atas, Zen menengarai, justru yang akan mengenakannya adalah team sukses atau kader muda yang mementingkan penampilan.

“Mungkin harga yang saya tawarkan bukan yang paling murah. Namun saya memberikan desain yang sedikit berbeda dengan yang lain,” kata Zen. “Biasanya kaos saya untuk menjaring anak muda atau dipakai di lingkungan tim sukses. Sekalipun barang saya menengah ke atas dengan pesanan tidak terlalu banyak, namun lebih tersegmentasi,” tambahnya.

Setidaknya pada even pemilu, Zen bisa mendapatkan 4000 hingga 5000 pesanan kaos per bulan. Pesanan tersebut datang dari dalam kota hingga luar Jawa. Dengan jumlah sebesar itu, Zen mengaku bisa mendongkrak omset penjualan hingga 40 persen dari omset hari biasa.

“Pesanan tersebut biasanya berlangsung terus sampai menjelang pemilu,” ujar pengusaha yang memulai konveksinya sejak lima tahun yang lalu itu.

Bukan Zen saja yang merasakan legitnya bisnis pemilu. Print World, jasa digital printing, turut diserbu order dari caleg dan partai di Solo. Kebanyakan order berupa flex banner, sering disebut MMT, untuk dipajang di jalanan dalam berbagai bentuk.

“Setidaknya lebih dari 3000 meter persegi MMT telah kami cetak. Satu caleg bisa pesan hingga 1000 meter. Ada pula yang pesan hingga 2000 meter. Dari caleg lokal cukup banyak. Dari caleg luar kota juga ada, seperti dari Salatiga dan Sragen,” ujar Iwan Cahyo Nugroho, marketing officer Print World, Solo.

Print World terbantu dengan program promo launching. Sejak kehadirannya pada 6 Januari 2009 lalu, Print World mematok harga untuk flex banner sebesar 15 ribu per meter hingga akhir Januari. Kontan banyak caleg dan partai berbondong teken order di tempat ini.

“Sejak mulai buka 6 Januari lalu, kami langsung kebanjiran order. Ini bisa jadi karena dukungan iklan banner tentang harga promo yang kami pasang di jalan. Setelah promo berakhir, kami menerapkan harga 25 ribu per meter persegi,” ujar Iwan.

Iwan mengaku banyaknya order ini membuat perusahaan kewalahan. Banyaknya order yang terdaftar, beban perusahaan menjadi overload. Alhasil pesanan baru bisa jadi dua hingga tiga hari setelah dipesan.

“Kami mempunyai dua mesin. Mesin pertama bisa mencetak 30 meter per jam. Mesin kedua bisa mencetak 70 meter per jam. Selama melayani pesanan untuk pemilu, mesin bekerja selama 24 jam. Sekalipun begitu, kami belum bisa memenuhi semua order yang overload,” kata Iwan.

Bisnis atribut pemilu memang menggiurkan. Omset besar bisa didapatkan selama pra pelaksanaan even ini. Namun risiko yang dihadapi pun juga besar. Banyak ditemukan kasus, pemesan dari tim sukses caleg atau partai, mangkir dalam masalah pelunasan order.

Strategi dalam sistem pembayaran order pun diperketat. Zen mengambil langkah dengan mewajibkan pemesan untuk memberikan down payment (DP) 50 persen di awal.

“Jika pekerjaan telah selesai sekian persen, harus ada pembayaran lagi. Begitu seterusnya hingga lunas. Ini untuk menghindari konsumen yang berniat ngemplang (mangkir –red),” ujar Zen.

Langkah dari Print World beda lagi. “Semua pesanan harus dibayar cash di depan. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Iwan.


Sesama Pebisnis Fotografi Jangan Gontok-Gontokkan

Persaingan antar kompetitor sesuatu yang lumrah. Namun bila antar kompetitor saling bekerjasama mungkin menjadi sesuatu yang aneh. Justru prinsip ini yang seharusnya diterapkan antara pebisnis studio foto digital.

“Keuntungannya besar. Bila suatu saat ada order lebih dan tidak bisa ditangani sendiri, maka bisa menggandeng studio lain untuk membantu menghandel,” ujar M. Yoserizal, pemilik dan fotografer Yosh Digital Photography, Solo.

Kerjasama antar studio ini juga menjadi indikator bangkit tidaknya dunia fotografi di suatu wilayah. Bila antar fotografer saling curiga dan menganggap sebagai musuh, maka perkembangan fotografi akan berjalan di tempat.

“Hidup matinya fotografi juga di tangan fotografer sendiri. Kalau mereka menganggap pelaku bisnis fotografi ini sebagai musuh, maka yang rugi sebenarnya dia sendiri,” kata Yosh, sapaan Yoserizal.

Tantangan bisnis studio makin besar seiring berkembangnya hape kamera. Sekarang ini kamera hape sudah menyentuh hingga resolusi 8 piksel, sekalipun kualitasnya belum sebagus kamera profesional. Orang menjadi lebih suka memotret memakai kamera sendiri bila dibandingkan datang ke studio

Ada penelitian yang menemukan kecenderungan orang meninggalkan studio foto karena keberadaan hape berkamera. Setidaknya minat orang untuk menggunakan studio foto berkurang 50 persen,” kata Yosh.

Kerjasama antara pelaku bisnis studio digital menjadi salah satu jalan mempertahankan pasar. Dengan menganggap kompetitor lain sebagai mitra akan menguntungkan kedua belah pihak.

“Di Jakarta, kerjasama semacam ini sudah biasa,” ujar Yosh.

Masih Luas, Peluang Bisnis Studio Foto Digital di Solo

Bisnis studio foto digital makin marak. Di Surabaya, hampir setiap ruko ada studio. Peluang Solo masih terbuka lebar.
Dokumentasi foto saat ini menjadi begitu penting. Bayangkan bila sebuah pernikahan tanpa ada foto dokumentasi. Momen yang barangkali hanya terjadi sekali dalam hidup tersebut tidak bisa dikenang secara detail

Alasan ini menjadi salah satu inspirasi bagi M. Yoserizal, pemilik sekaligus fotografer Yosh Digital Photography, untuk mendirikan studio foto digital pada 2004 lalu. Dia mencoba mengambil pangsa wedding untuk bisnis studionya.

“Saya mengawali bisnis dengan fotografi wedding yang saya kembangkan ke pelayanan lain. Banyak orang yang menikah ingin momennya diabadikan,” ujar Yosh, panggilan akrab M. Yoserizal.

Yosh mengaku terjun di pangsa wedding tidak mudah. Risiko yang dihadapinya lebih besar bila dibandingkan memotret di studio.

“Bedanya dengan foto studio, foto wedding pemotretannya mengikuti acara yang sedang berlangsung dan harus minimal dalam melakukan kesalahan. Kalau foto studio masih bisa shot ulang jika ada kesalahan dalam memotret,” kata lelaki yang berguru pada Darwis Triadi ini.

Dalam sebulan, Yosh bisa menangani dua hingga tiga wedding. Beragam paket ditawarkan mulai dari 300 ribu hingga 8 juta. Ini disesuaikan dengan budget konsumen.

“Perbedaannya pada jumlah foto yang akan diberikan dan kualitas editingnya,”ujar pemilik usaha dengan dua cabang dan 8 karyawan ini.

Yosh tidak kehabisan akal. Studio utamanya yang terletak di seputaran kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini turut membidik pangsa mahasiswa. Paket yang digulirkannya berupa pas foto, foto glamour, hingga foto wisuda. Konsumen mahasiswa ini penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah wedding.

“Wisuda ini bersifat temporary. Di UMS ada tiga kali wisuda per tahun. Jadi saya manfaatkan even ini sebagai salah satu layanan di tempat saya dengan paket wisuda. Harga per paket 125 ribu dengan tiga foto yang diberikan kepada konsumen,” tutur Yosh. “Setiap ada even wisuda, saya bisa menangani 100 wisudawan. Itu masih ditambah mahasiswa yang membeli paket pas foto untuk ijazah sebelum wisuda diadakan,” lanjutnya.

Prospek bisnis ini masih cerah di Kota Solo dan sekitarnya. Belum banyak penyedia layanan foto digital yang menghiasi kota bengawan ini.

“Solo berbeda dengan Yogya dan Surabaya. Di kedua kota tersebut, studio foto sudah menjamur. Bahkan di Surabaya, hampir setiap ruko yang ada, terdapat studio foto,” ujar Yosh. “Solo masih sangat prospek untuk bisnis studio foto digital,” lanjut Yosh.

Modal yang diperlukan memang besar. Minimal 200 juta diperlukan untuk membeli peralatan untuk terjun di fotografi profesional. Soal layanan, pemilik usaha harus pandai mencari celah yang bisa ditembus dengan paket penawaran foto. Selain itu, nilai tambah dalam pelayanan maupun produk juga harus diperhatikan sehingga menjadi ciri khas tersendiri.

“Kalau saya berkomitmen untuk selalu menghadirkan inovasi dalam produk foto yang dihasilkan. Misalnya dalam paket wisuda, properti yang menjadi background wisudawan berupa properti asli dan bukan sebuah gambar. Kualitas editing juga selalu saya perhatikan untuk menjaga kualitas,” kata Yosh.