Lazada Indonesia

Pasar Dadakan dalam Kereta Logawa

Tepat setengah enam pagi loko kereta Logawa menyuarakan peluitnya. Ulahnya itu menandakan kesiapan mengantar para penumpang yang naik di gerbong, menuju tempat yang dituju. Trayek Cilacap-Jawa Timur dilakoninya tiap hari. Sekalipun kondisi loko dan gerbong lusuh termakan usia, namun banyak orang menumpukan keuangan keluarga di angkutan darat tersebut.

Begitu kereta kelas ekonomi ini ngetem di stasiun Gombong, Kebumen, berbondong suasana gerbong menjadi layaknya pasar. Berbagai kegiatan bisnis berlangsung di situ. Persaingan bisnis pun cukup ketat mengingat jenis barang yang dijual nyaris sama.

Benar sekali bila Anda menebak jika penjaja makanan dan minuman yang mendominasi bisnis di gerbong kereta Logawa. Mereka menyediakan berbagai sajian makanan pengganjal perut. Menunya antara lain nasi pecel, ayam, rames, hingga gudeg. Makanan cemilan pun mudah ditemukan. Ada mendoan khas Banyumasan, sale pisang, tahu sumedang, jenang krasikan, gethuk goreng, dan aneka gorengan. Dari sisi minuman, air mineral menjadi favorit pilihan penumpang saat dahaga, di samping bisa didapatkan kopi hingga minuman sereal.

Tidak hanya bisnis makanan dan minuman yang bisa ditemui. Bisnis jasa pun turut menyemarakkan agenda bisnis di Logawa. Penyapu lantai gerbong, penyemprot pengharum ruangan, persewaan bantal, dan pengamen turut ambil bagian sekalipun jumlahnya sedikit.

Kondektur kereta tampaknya ikut “iri” bila tidak ambil bagian. Penumpang tanpa karcis bisa menyetor ke kondektur dengan tarif lebih murah dari harga normal. Lumayan bisa buat nambah persediaan pangan keluarga. Rezeki nomplok bila ada penumpang yang turut membawa motor di kereta. Mungkin sang penumpang mengira kereta Logawa seperti kereta kargo dengan tarif murah. Memang murah tarifnya. Cukup menyelipkan minimal 100 ribu ke petugas, motor sudah bisa diangkut di gerbong. Lagi-lagi “peluang” bisnis buat kondektur.

Pemasaran bisnis di kereta memang susah susah susah alias tidak gampang. Banyak pedagang yang mondar-mandir antar gerbong menawarkan dagangan ternyata tidak cepat laku. Namun ada pula yang sedikit demi sedikit dagangan sebagian mereka yang laku. Ada pula yang kurang lebih dua jam langsung ludes dagangannya. Apa rahasia dia?

“Silahkan dilihat dulu getuk gorengnya. Murah, cuma seribu. Kalau ingin mencicipi silakan dibuka dan rasakan. Beli sepuluh gratis satu,” ujar penjaja getuk goreng sokaraja.

Resep larisnya penjualan getuk ini terletak pada keberanian penjual untuk memastikan produknya enak dan belum basi. Tidak banyak pedagang di dalam kereta yang mencoba cara penjual getuk bertubuh kurus nan tinggi itu. Hasilnya dari empat dos getuk seribuan yang ditawarkan, ludes dalam waktu kurang dari dua jam. Hebat! Dia pun masih bisa memberikan gratis getuknya kepada pengemis yang ikut mengais rezeki di Logawa. Sudah sukses berjualan, ternyata dermawan juga sang Bapak.


Begitulah dinamika bisnis di dalam kereta Logawa. LiputanOne hanya melakukan pengamatan dari Cilacap menuju Yogya. Bila diteruskan hingga ke Jatim barangkali masih banyak pelaku bisnis dari akar rumput lain yang menggantungkan rezekinya di dalam gerbong kereta. Semakin jauh kereta melangkah, makin fluktuatif jumlah penumpang dan pelaku bisnis yang ada.

Muncul pertanyaan, kira-kira berapa uang yang beredar selama satu kali trayek Logawa? Bila diasumsikan ada 100 pelaku bisnis dengan omset 100 ribu rupiah per orang, maka satu kali trayek ada uang beredar sekitar 10 juta rupiah. Kereta Logawa melayani dua kali trayek setiap harim sehingga asumsi per hari ada uang beredar 20 juta di sana. Kereta kelas ekonomi memang tidak bisa dipandang remeh. Ini baru kereta Logawa, belum kereta ekonomi lainnya.

Memanfaatkan Keunggulan Lokasi

Gejolak ekonomi akhir-akhir ini memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia harus pintar memilih dan memilah kebutuhan hidup. Atau dengan kata lain tahu mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda. Alhasil, beberapa kegemaran pun terpaksa dihentikan dulu. Misal hobi memelihara ikan hias. Maklum, ikan hias bisa dibilang kebutuhan tersier, yang tidak harus dipenuhi.


Praktis, turunnya minat memelihara ikan hias turut mempengaruhi pasaran ikan hias. Tak jarang ada pengusaha yang harus banting stir ke usaha lain setelah ikan hias tak lagi menjanjikan. Bagi yang ingin bertahan, strategi dan kiat-kiat jitu diperlukan agar tak merugi, apalagi gulung tikar.


Hanya saja, pendapat umum pasaran ikan hias sedang suram dibantah Wahono, Manager Pro Shop “She Look Red.” Menurutnya, Solo masih berpotensi untuk pasaran ikan hias mengingat banyak kolektor yang memiliki daya beli bagus. Dia melihat sudah mulai banyak kolektor yang mencoba membeli ikan arwana sebagai koleksinya

.

Kebanyakan mereka meyakini arwana bisa mendatangkan rezeki dan menolak bala. Jadi kalau ada keluarga yang kena musibah, yang mati adalah arwananya. “Jadi keluarga terbebas dari ancaman musibah jika memelihara arwana. Begitu kepercayaan yang ada tentang arwana,” jelas Wahono tentang alasan sebagian besar pembelinya memilih arwana.


Wahono menjual berbagai ukuran arwana, dari 15-17 cm yang dihargai Rp 5 juta hingga yang 20-25 cm yang dibanderol Rp 6,5 juta. “Ada juga ukuran yang lebih besar, harganya sekitar Rp 15 juta-Rp 20 juta,” katanya yang hanya menjual jenis super red. Dalam sebulan, tokonya rata-rata mampu menjual 10 ekor arwana ukuran kecil. Seluruh arwana kiriman dari Jakarta dengan pembibitan di Pontianak.


Meski menganggap pasaran arwana relatif stabil, dia tetap menerapkan jurus khusus untuk bersaing dengan toko sejenis. “Kami mengkhususkan menjual arwana super red. Setiap arwana super red di tempat kami dipasangi semacam identitas khusus yang ditanam di dalam tubuh ikan agar ikan mudah dikenali seumpama hilang atau dicuri,” ujarnya. Media promosi pun juga dilirik. Untuk lokal, Wahono menggunakan brosur dan iklan di media setempat. Namun, “Kami juga dibantu pemasok dari Jakarta untuk iklan skala nasional,” tuturnya. Dia sendiri menyebut promosi arwana malah lebih gencar di Malaysia dan Singapura. “Padahal arwana asli Indonesia,” tambahnya.


Strategi lain penjual ikan hias adalah dengan bersama-sama membentuk kelompok penjualan sesama ikan hias yang berdekatan. Seperti yang terlihat di Pasar Gedhe Solo. Ada los khusus sebagai sentra pembelian ikan hias. Sehingga pembeli pun tak perlu repot untuk mencari barang yang sesuai keinginan dan kantong. “Memang kalau bareng-bareng kayak gini keuntungannya sudah dikenal sebagai sentra ikan hias. Meski juga harus bersaing dengan toko lainnya,” jelas Asih, salah satu penjual ikan hias di Pasar Gedhe.


Dia mengatakan dari berbagai jenis ikan yang dijual; arwana, koi, dan ikan kecil-kecil, yang paling laku arwana. “Saya menjual arwana silver Brasil Rp 150 ribu. Kalau yang kecil-kecil antara Rp 5.000 hingga Rp 35 ribu,” tuturnya. Asih juga merasa tidak memerlukan media promosi apapun. Biar bagaimanapun, menurutnya, sudah banyak yang tahu jika sentra ikan hias di Solo ada di Pasar Gedhe.


Ria, karyawan Solo Akuarium yang berlokasi di lantai 2 sentra ikan hias Pasar Gedhe menuturkan untuk menarik pembeli, dia mengunggulkan proses karantina yang dijalani ikan hias di tokonya sebelum dilepas ke pasaran. “Sehingga ikan yang dijual benar-benar dalam keadaan sehat. Di sini jarang ada ikan yang mati. Paling cuma beberapa saja,” klaimnya.


Dia menjual berbagai jenis ikan air tawar dan air laut yang semuanya untuk ditempatkan di akuarium. Untuk yang paling laku, ikan arwana dan koi masih terdepan. Arwana silver Brasil yang kecil sekitar Rp 100 ribuan. “Kalau super red untuk yang kecil saja bisa jutaan rupiah. Kalau ikan koi harganya bervariasi mulai dari Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, bahkan 35 ribu. Tergantung besar kecilnya juga,” terangnya.


Dalam sehari, Solo Akuarium mampu menjual tujuh ekor arwana kategori biasa. Untuk super red, Ria tidak bisa memastikan. “Yang jelas keberadaan Pasar Gedhe memberi keuntungan tersendiri. Sekalipun mungkin banyak penjual di luar sana, tidak terlalu mempengaruji penjualan di tempat kami. Barangkali konsumen tahu kalau Pasar Gedhe jadi tempat rujukan, jadi banyak dari mereka yang memilih ke sini,” katanya.