Home » , , , , , » Berharap “Keajaiban” Jalur Tol

Berharap “Keajaiban” Jalur Tol

Keresahan melanda hati Muhjarot, 32 tahun. Warga Kebon Agung RT.03/IV Ngesrep, Ngemplak,Boyolali, ini, was-was dengan berita yang santer terdengar di desanya. Rumahnya, yang sekaligus menjadi tempat usaha bengkel sepeda, menjadi jalur proyek jalan tol Semarang-Solo. Akibatnya, penghasilan utama yang dimilikinya akan hilang bila rumahnya ikut tergusur.


Jarot, panggilan akrab Muhjarot, harus menanggung empat anggota keluarga termasuk dirinya. Dia dan bapaknya bekerja mereparasi sepeda onthel pelanggan di teras rumahnya. Istrinya bekerja di sebuah pabrik tidak jauh dari sana. Anak pertamanya, yang masih balita, turut diasuh Jarot sembari mengerjakan servis sepeda.


“Penghasilan saya dari bengkel sepeda ini sangat pas-pasan. Satu bulan bisa memperoleh uang sekitar 300 ribu. Kalau pas lagi ramai mungkin bisa sampai 400 ribu,” ujar Jarot saat ditemui di rumahnya.


Kebutuhan rumah tangga yang besar membuat Jarot tidak lepas dari lilitan hutang. Dia dan sang istri bahu membahu “buka lubang tutup lubang” agar bisa bertahan hidup. Penghasilan istri pun hampir sama dengan Jarot. Jika tidak lembur, biasanya memperoleh 300 ribu. Kalau pabrik sedang banyak lemburan, istri Jarot bisa membawa sekitar 400 ribu.


“Penghasilan dari bengkel sepeda biasanya saya pakai untuk menutup hutang-hutang keluarga. Untuk kebutuhan sehari-hari mengandalkan dari gaji istri,” ungkap lelaki kurus berperawakan tinggi ini.


Berkaca dari situ, Jarot sangat berharap rute tol bisa membelok dan tidak mengenai rumahnya. Dia berharap “keajaiban” yang terjadi pada Pasar Mangu di wilayahnya, juga terjadi padanya.


“Dulunya Pasar Mangu terkena rencana jalur tol. Entah karena sebab apa, tiba-tiba jalurnya membelok sehingga tidak mengenai pasar. Saya berharap tempat saya ini juga demikian,” kata Jarot sembari menghisap rokok filter.


Wajar bila Jarot berharap demikian. Untuk membuka usaha di tempat baru, Jarot merasa memiliki tantangan lebih berat. Dia harus merintis lagi usaha dari awal sekaligus beradaptasi dengan lingkungan.


“Yang bikin tambah berat adalah kehilangan pelanggan. Saya sudah lama membuka bengkel sepeda di Ngesrep. Pelanggan saya juga banyak. Kalau saya pindah, mereka bisa tidak menjadi pelanggan lagi,” ujar Jarot cemas. ”Belum tentu di tempat baru nanti keahlian saya laku bagi warga sekitar,” Jarot menambahkan.


Jarot menilai, pembangunan jalan tol ini penuh ketidakadilan. Jalan yang diklaim bebas hambatan ini, menurutnya, akan dinikmati oleh orang mampu yang memiliki kendaraan roda empat saja. Orang kecil seperti dia, tidak bisa berharap banyak bisa memanfaatkan jalan tol. Apalagi untuk masuk tol pun harus membayar.


“Jika masyarakat sekitar jalan tol tidak memperkuat perekonomiannya, maka aktivitas ekonomi mereka bisa mati. Tol yang melewati Ngesrep ini rencananya dibuat jalan layang. Tentu saja tidak ada interaksi ekonomi antara pengguna tol dengan warga sekitar. Maka jika tidak diantisipasi, perekonomian warga bisa mati,” Jarot menjelaskan.


Namun Jarot bersiap diri bila memang harus menemui pilihan terburuk untuk pindah. Dia mensyaratkan agar nilai ganti rugi sesuai dengan nilai tanah dan bangunan yang dimilikinya, syukur-syukur lebih. Tanah Jarot seluas 156 meter persegi. Dia berharap per meter minimal dihargai Rp 500 ribu.


“Transaksi jual beli tanah yang terakhir pernah terjadi di sini, per meter sudah mencapai 500 ribu. Kalau bisa tempat saya dihargai dua kali lipatnya. Karena saya pernah dari korban tol juga, jika dia mendapat ganti rugi dua kali lipat dari nilai pasar,” pungkas Jarot penuh harap.

Comments
1 Comments

1 orang bicara:

Mas said...

Sayapun demikian, saya tinggal di dukuh tegalrejo ngesrep ngemplak boyolali mengharap kepastian dari pemerintah