Kisah pilu TKI di Arab Saudi ternyata menumpuk. Kasus pemancungan Rukiyati hanyalah segelintir dari banyaknya persoalan di negara produsen minyak tersebut.
Dalam komentar pada rilis berita Yahoo Indonesia, ditemukan indikasi adanya penjualan TKW di sekitar Pasar Seng, Makkah. H2s165, nickname pembuat komentar tersebut, mengatakan, di belakang Pasar Seng terdapat ratusan TKW yang terlantar. "Mereka disembunyikan oleh jaringan orang-orang Jawa Timur," tulisnya.
Sementara itu, ungkap H2s165, sejumlah TKI yang tinggal di bawah jembatan yang ramai diberitakan media massa beberapa waktu lalu, jumlahnya tidak lebih dari lima persen dari TKI yang terlantar. "Yang di bawah jembatan layang tersebut adalah yang betul-betul sudah lolos dari sekapan jaringan," kata H2s165.
TKW yang berada dalam sekapan jaringan, nasibnya mengenaskan. Mereka sering dijual ke para polisi di sekitar Makkah da Jeddah untuk melayani kebutuhan syahwat. Bahkan, seorang sopir dari Indonesia bisa "memperistri" mereka dengan membuatkannya surat nikah palsu. TKW ini berada di Arab Saudi tanpa membawa passport -- karena masih disimpan majikannya -- dan tanpa uang.
Ternyata, praktik prostitusi ini salahsatunya menjadi cara bagi TKW untuk segera bisa pulang ke Indonesia. "(Mereka) mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, kemudian menjual diri lagi ke polisi-polisi sambil merayu agar dibuatkan surat pengantar membeli tiket," ujar H2s165. Dengan surat pengantar itu, mereka akan diposisikan sebagai jamaah umrah Indonesia yang tersesat dan ketinggalan dari rombongannya. "Arab Saudi ada anggaran untuk memulangkan jamaah umrah yang tersesat ke seluruh penjuru dunia," lanjut H2s165.
Lain halnya yang dialami oleh nickname Dr. Angka. Dalam komentarnya, dia mengatakan, banyak pembantu rumah tangga di Arab Saudi mendapatkan perlakukan kasar dari majikannya. "Saya sendiri pernah menolong seorang TKW yang kabur dari majikan. Setelah saya tanya kenapa kabur, dia jawab majikannya galak, sering main pukul,difitnah mencuri hape, dan selama 11 bulan bekerja baru menerima gaji selama tiga bulan," kata Dr. Angka.
Jaringan prostitusi TKW oleh orang Indonesia di Makkah ini, kata H2s165, sering memberikan upeti kepada oknum polisi setempat. "KBRI di Riyadh dan KJRI di Jeddah sudah tahu hal ini. Tapi mereka menutup mata," ujar H2s165. Oleh karena itu, H2s16h mengajak berbagai pihak untuk menginvestigasi jaringan ini. Agar tidak bocor dalam proses investigasi tersebut, maka, "Lakukan secara diam2, jangan mencolok, dan saya jamin hanya butuh dua minggu untuk tahu segalanya. Karena, ini bukan rahasia lagi di kalangan pekerja indonesia disana, terutama para sopir yang butuh pelampiasan syahwat.
foto: ploso.net
Setiap karyawan pasti berharap memiliki pemimpin yang ideal. Atau setidaknya, mempunyai karakter yang mendekati pemimpin idaman. Secara psikologis, karyawan akan lebih senang bekerja untuk pemimpin yang memenuhi nilai-nilai subjektif tertentu, yang sesuai dengan keinginan mereka.Namun, pada kenyataannya, karyawan seringkali tidak bisa memilih bos mereka. Beruntunglah karyawan yang mendapatkan bos berkriteria “baik”. Tapi, memiliki bos yang dikategorikan “buruk”, juga bukan berarti akhir dari segalanya.
Apakah Anda merasa tertekan dengan sikap bos yang selalu mengkritik hasil kerja Anda? Mungkin, maksud bos Anda baik. Dia memperhatikan setiap detail dan ingin hasil kerja Anda sempurna. Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Misalnya, saat deadline mendesak, tiba-tiba atasan Anda masih melakukan revisi. Bahkan, dia ingin merombak total pekerjaan yang sudah dikerjakan begitu lama. Memusingkan, bukan? Belum lagi, masih ditambah kritikan pedas yang cukup membuat panas telinga. Selain itu, Anda tidak leluasa bekerja karena selalu dipantau oleh sang bos yang menyimpan keraguan akan kemampuan Anda dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.
Seorang yang perfeksionis ingin mengerjakan semuanya dengan sempurna. Dan, standar itu tidak hanya diterapkan pada dirinya, melainkan juga kepada orang lain. Jadi, ketika sesuatu tidak sempurna, maka sikapnya jadi negatif. Bahkan, jika suatu pekerjaan masih mendekati sempurna pun baginya tidak cukup.
Akibatnya, menutup peluang para staf dan pendukungnya untuk berkembang. Ketika bantuan staf benar-benar diperlukan, mereka tidak siap karena tidak pernah diberi kesempatan berlatih menerima tanggung jawab.
Sikap yang sering ditunjukkan seorang perfeksionis sebagai berikut:
•Sangat berkomitmen, bahkan sering berlebihan dan bisa mencapai terobsesi.
•Tidak suka mendelegasikan tugas bagi orang lain, atau kurang percaya pada kemampuan orang lain.
•Memiliki kesulitan untuk menghitung prioritas dengan sehat.
•Memiliki dorongan yang sangat besar untuk mengendalikan segala sesuatu.
•Berkompetisi dengan kuat, terdorong untuk menang dalam banyak hal, bahkan untuk hal-hal yang tidak berarti sekalipun.
•Memiliki standar yang sangat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis.
•Sulit untuk fleksibel, cenderung kaku, dan menuntut orang lain dengan menggunakan standar yang tinggi.
Anda mungkin pernah merasa menjadi karyawan yang berhasil mencatatkan kinerja sempurna, mencapai target tinggi, namun tidak dinilai bagus oleh atasan. Atasan Anda ini mungkin termasuk kategori perfeksionis. Mereka beranggapan bahwa kinerja sempurna masih dapat dicapai, sehingga ia masih merasa tidak puas.
Masalahnya, mereka yang bertipe perfeksionis ini berpotensi mengakibatkan orang lain jadi tertekan untuk mengikuti standar sempurnanya. Oleh karena itu, Anda tidak perlu mengambil serius kata-katanya. Yang penting, Anda berhasil mencapai kinerja yang baik sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan, meskipun tidak sempurna.
Lelah dengan segala kritikan dan lantas menyerah. bukanlah solusi pintar untuk karir Anda. Memutuskan untuk pindah kerja karena satu masalah ini justru bisa membuat curriculum vitae (CV) Anda “cacat”. Periode kerja yang terlalu singkat seringkali membuat calon employer meragukan kompetensi Anda. Jika Anda tahu triknya, bekerja untuk bos yang perfeksionis malah bisa memberikan pengalaman dan keterampilan tersendiri.
Orang yang perfeksionis biasanya memiliki standar sendiri bagaimana pekerjaan harus dilakukan. Usahakan Anda mengerti kebiasaan dan parameter kerja sempurna si bos terhadap setiap jenis pekerjaan. Perhatikan dengan seksama arahan dan petunjuknya, buat catatan sebagai panduan. Jangan ragu bertanya agar Anda mendapat gambaran sejelas-jelasnya sehingga dapat memenuhi ekspektasinya.
Bos Anda tidak akan melewatkan kesalahan sekecil apapun. Cobalah berpikir seperti seorang perfeksionis. Dan, cari kelemahan atau poin yang rawan kritikan dalam pekerjaan Anda. Mengkritisi diri sendiri sangat dibutuhkan untuk meminimalisasi kesalahan.
Memiliki bos yang perfeksionis membuat Anda benar-benar harus perhatian terhadap detil. Hindari kesalahan remeh seperti salah ketik, ketidakrapian, informasi yang tidak akurat, dan sebagainya, yang akan memicu masalah lebih besar nantinya. Jangan lupa lakukan check and recheck untuk setiap pekerjaan, sebelum Anda menyerahkannya untuk direview.
Jika mengikuti emosi, bertahan dengan bos yang selalu menuntut memang terasa melelahkan dan menjengkelkan. Namun, sebaiknya Anda tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Malah, anggap saja kritikan tersebut sebagai cambukan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Lihatlah setiap kritikan sebagai cara belajar untuk jadi karyawan yang lebih baik.
Jangan tunggu si bos mencari-cari kesalahan Anda. Sebisa mungkin berikan informasi sebanyak-banyaknya sebelum diminta atau ditanyakan. Hal ini sekaligus dapat memberi kesan Anda mampu dan antusias mengerjakan pekerjaan tersebut. Sehingga, bos Anda akhirnya percaya pada Anda.
Kompromi dan menyesuaikan diri dengan sikap bos yang perfeksionis bukan berarti Anda harus menuruti keputusannya secara buta. Jika berulangkali sikapnya tidak konsisten, mulai menjurus kepada ambisi pribadi, dan sudah mengganggu ritme kerja lainnya, maka inilah saatnya Anda mengatakan bahwa revisi dan rombak sudah harus dihentikan. Kemukakan alasan yang logis dan masuk akal. Dan, sampaikanlah dengan sopan.
Bagaimana bila tugas telah selesai dikerjakan, namun dia mengotot ingin melakukan sejumlah perbaikan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hingga malam sebelum deadline? Sah-sah saja bila Anda membiarkannya memuaskan obsesinya seorang diri. Selama tuntutan pekerjaan sudah dipenuhi, tidak ada alasan untuk ikut mencurahkan waktu dan tenaga terlampau banyak untuk satu tugas. Ingat, Anda masih punya tugas lain yang menanti esok hari.
Michael S. Dobson, penulis buku Working with Difficult People, menyatakan, kunci menghadapi si perfeksionis adalah melancarkan jalur komunikasi Anda dengannya. Ketika menerima pembagian tugas kerja, ambil waktu untuk memperjelas ekspektasi dari masing-masing pihak. Jika atasan ingin Anda melakukan sesuatu dengan cara tertentu, mintalah dia menuliskan langkahnya secara step by step di atas kertas, hingga Anda benar-benar mengerti apa yang ia maksudkan. Bukan yang terkuat akan bertahan, namun yang paling mampu menyesuaikanlah yang akan sukses.
Selanjutnya... Share
Barangkali hanya sedikit orang yang mau melepas kemapanan hidupnya untuk mengejar cita-cita menjadi entrepreneur. Adalah Bob Sadino salah satu pelakunya. Sebelum usahanya menjadi besar dan tenar seperti saat ini, proses panjang dilaluinya dengan berjuang dalam keprihatinan. Padahal, dia awalnya pernah bekerja menjadi karyawan PT Unilever(1954-1955). Selanjutnya, menjadi karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg (1950-1967).Ketika 9 tahun dihabiskannya bekerja di Belanda dan Hamburg, sejak 1958, Bob merasa sangat rindu dengan tanah airnya. Dia pun memantapkan diri untuk kembali ke Indonesia. Bahkan, Bob bersedia hidup serba kekurangan dengan istrinya sekembalinya mereka. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.
Bob ternyata jenuh jika harus bekerja di bawah tekanan orang lain. Bob pengen jadi bos. Dia lebih suka “menjadi kepala ikan teri daripada sebatas buntut ikan paus.” Karena itu, dia bertekad harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan 1960-an. Satu dijualnya untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, yang saat itu masih terhampar sawah dan kebun.
Tekad hidup mandiri mengantarkan Bob menjadi sopir taksi dengan memakai mobil sendiri yang belum dijualnya. Dasar lagi apes, mobil itu tabrakan dan hancur waktu disewakan. Hilang sudah kendaraannya untuk mencari sesuap nasi. Kesulitan hidup itu membuatnya menerima “profesi” baru sebagai tukang bangunan. Gajinya pun hanya Rp 100 per hari, kala itu. Depresi, sempat mewarnai hidup keluarga Bob.
Istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, sebenarnya bisa menyelamatkan keadaan dengan bekerja. Tetapi, Bob bersikeras. ''Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah,'' ujar lelaki kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933.
Suatu hari, teman Bob menyarankan memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob lantas tertarik. Bisnis rumahannya pun dimulai. Ketika beternak ayam itu, muncul inspirasi untuk berwirausaha. Tidak jarang, Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. “Ayam saja bisa berjuang untuk hidup. Tentu manusia pun juga bisa,” kata pemilik nama lengkap Bambang Mustari Sadino ini.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, dia dan istrinya memiliki banyak pelangganan, terutama orang asing. Karena pernah tinggal dan bersosialisasi dengan orang mancanegara, mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya menetap di kawasan Kemang, Jakarta, yang banyak dihuni pula oleh orang asing.
Saat berkeliling menjual telur ayam, Bob sering mengatakan, ”Kalau telur saya busuk satu, saya akan ganti satu kilo.” Inilah jaminan Bob terhadap produk yang dijualnya.
Tapi, gara-gara slogan ini, muncul ide gilanya. Suatu hari Bob sengaja memasukkan satu butir telur dalam dagangannya. Telur busuk itu dimasukkan ke dalam pembelian seorang ibu yang cukup cerewet.
Keesokan hari, ibu itu marah dan minta ganti rugi ke Bob. Sesuai garansinya, maka telur tersebut langsung ditukar dengan satu kilogram telur dalam kondisi bagus. Wow, memang gila cara Bob bertransaksi.
Jangan salah sangka. Justru karena idenya ini, Bob dengan cepat menjadi terkenal di daerah si ibu cerewet itu. Gara-garanya, ibu tadi bercerita kepada tiap orang yang ditemuinya. ”Enak beli telur di Pak Bob. Dijamin, jika busuk satu ditukar sekilo,” kata si ibu cerewet. Langsung deh, laris manis telur Bob.
Apakah Bob memakai ilmu teori khusus untuk memajukan bisnis rumahannya ini? Sama sekali tidak. “Kalau Anda masih mengandalkan pemikiran hasil kuliahan, bakalan susah memahami pemikiran saya. Makanya, sebelum ngobrol bareng saya, tolong otak Anda dipindah ke dengkul dahulu, biar nyambung dengan saya,” tuturnya. Waduh, bingung, kan?!
Bob memang dikenal sebagai pengusaha “gila” yang sering menentang arus dari ilmu bisnis yang sering digelontorkan melalui teori-teori akademik maupun dunia perbukuan. "Saya selalu menganalogikan bisnis itu seperti sungai yang penuh kebebasan, tanpa perencanaan. Bahkan, tanpa arah tujuan yang hendak dicapai," kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu,” kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu.
Sikapnya ini mengantarkan Bob menuju kesuksesan. Perkembangan usahanya tumbuh pesat. Kini, Bob menjadi pemilik tunggal swalayan Kem Chicks. Setelah swalayan Bob berkembang, dia merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura. Di situ, Bob mengelola kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu, dia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Sekalipun sudah sukses, Bob tidak lantas merendahkan orang lain. Sikap ini ditanamnya sejak merintis usaha. Tidak jarang Bob dimaki pelanggan telurnya kala itu. Bahkan, pernah dimaki babu orang asing. Namun, mereka mengaca pada diri sendiri dan segera memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, yang semula pribadi feodal menjadi orang yang mau melayani.
Baginya, sukses itu proses. Buat seorang entrepreneur seperti Bob, setiap detik dia siap menerima kegagalan. “Kalau orang lain menolak kegagalan, saya menerima semua kegagalan,” ujarnya. “Setiap detik saya menerima kegagalan. Kata orang pinter, orang sukses itu adalah orang yang bangkit lagi setiap mendapatkan kegagalan. Itulah orang sukses,” lanjut Bob.
Keberhasilan Bob tidak lepas dari ketidaktahuannya. Sehingga, dia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob justru menjadi terampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, yang mestinya dimulai dari ilmu kemudian barulah berpraktik. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu akan berpikir dan bertindak serba canggih. Orang itu akan cenderung arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan, Bob senantiasa luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran, dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu, Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu, dia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan. Bob tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang ini tidak ada habis-habisnya. Karena itu, dia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Pesan Bob Sadino, langkah-langkah menjadi entrepreneur yang sukses dibangun dengan kemauan yang keras, tekad yang kuat, berani mengambil keputusan yang tepat, tahan banting, dan tidak cengeng menghadapi cobaan. Terakhir,
yang paling penting, adalah bersyukur dan ikhlas selalu kepada Allah.
Selanjutnya... Share
Menularkan ilmu, selain berpotensi sebagai amalan jariyah, juga bisa dijadikan jalan memperoleh pendapatan. Muhammad Yunianto, misalnya, melihat banyak siswa sekolah di daerahnya membutuhkan tempat belajar tambahan, maka diberanikannya membuat lembaga bimbingan belajar.Di kediamannya, lembaga bimbingan belajar terdekat ditempuh dengan jarak kurang lebih 10 kilometer. Tepatnya, siswa harus menuju ke daerah Gemolong, Sragen. Sementara di daearah Ketitang, Nogosari, Boyolali –yang menjadi lokasi tempat tinggal Yunianto—belum ada sama sekali lembaga sejenis. “Yang lumayan ramai adalah les privat. Jadi guru yang mengajar les belum punya wadah tersendiri. Dari situlah, saya melihat ada peluang untuk membuka lembaga bimbingan belajar,” kata Yuni, panggilan Muhammad Yunianto.
Keberaniannya membuka usaha ini tidak lepas dari dasar pendidikannya yang seorang alumni jurusan MIPA Kimia dari Universitas Sebelas Maret, Solo, angkatan 2007. Istrinya juga lulusan FKIP Fisika. Jadi, mereka merasa ada panggilan hati untuk meneruskan ilmunya kepada para siswa yang membutuhkan.
Awal 2007, lembaga bimbingan belajar yang diberi nama Ulinnuha pun berdiri. Yuni memanfaatkan ruang tamu di rumahnya sebagai tempat belajar. Untungnya, kursi dan meja untuk belajar sudah ada. Sehingga, bisa lebih menghemat pengeluaran.
Yuni memang sengaja menaruh lembaganya satu atap dengan kediamannya. Baginya, lokasi itu cukup strategis. Alasannya, tidak terlalu jauh dari jalan besar utama. Suasana pun tidak terlalu bising dan bisa mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Selain itu, rumah Yuni juga tidak terlalu jauh dengan kompleks sekolah yang tersebar di sana.
Untuk promosi, Yuni hanya perlu uang sekitar Rp 20 ribu. Percayakah Anda? “Saya gunakan Rp 10 ribu untuk mencetak surat diskon les yang dikirim ke sekolah-sekolah. Sisanya, untuk keperluan transportasi,” tutur Yuni.
Memang, untuk promosi awal, Yuni tidak “heboh” dengan mencetak brosur yang disebar di pinggir jalan. “Cara itu sangat tidak efektif,” katanya. Namun, dia menyurati sekitar 10 sekolah yang ada di sekitarnya untuk diberikan surat. Surat itu berisi diskon biaya pendidikan jika ikut program bimbingan belajar di tempatnya. Dan, tiap sekolah diberi lima surat diskon yang diperuntukkan bagi siswa dengan ranking 1-5 di kelasnya.
Dan, cara ini pun sangat jitu. Beberapa orang tua siswa yang anaknya pandai, menanggapi positif surat diskon tersebut. Dimasukkannya sang anak, untuk belajar di tempat Yuni. Melihat anak-anak yang pandai mengikuti bimbingan belajar, ternyata, membuat iri teman mereka lainnya. Maka, siswa lain pun terpacu untuk ikut les di tempat yang sama. Akhirnya, di tahun 2007, Yuni mendapatkan siswa 21 orang. Rinciannya, 6 orang ikut program privat, sisanya program reguler.
Ada tiga program yang dibuka Yuni, yaitu privat, reguler, dan bimbingan belajar eksternal. Biaya pendaftaran gratis Untuk privat, kegiatan belajar dilakukan selama 1,5 jam tiap pertemuan dengan jumlah siswa maksimal lima orang. Biaya program antara Rp 8 ribu – Rp 15 ribu per siswa, per pertemuan. Pengenaan harga tergantung jumlah siswa yang ikut. Semakin mendekati lima siswa, tarif per siswa semakin murah.
Program reguler dilaksanakan selama satu jam. Seminggu diadakan tiga kali. Biayanya dipungut sekali di awal pendaftaran. Biaya program yang dilakukan selama satu semester ini senilai Rp 350 ribu per siswa. Siswa akan mendapatkan jaket, modul, dan fasilitas lainnya. Satu kelas maksimal 20 siswa.
Sedangkan, program belajar eksternal ditawarkan kepada sekolah yang ingin para siswanya diikutkan pelajaran tambahan. Jadi, penanggung jawab siswa adalah sekolahnya. Biayanya, per jam hanya 25 ribu per pertemuan. Tidak ada batasan jumlah siswa yang ikut. “Hanya saja tahun ini tidak bisa terselenggara karena masih minimnya jumlah SDM yang ada,” kata Yuni.
Modal yang dipakai Yuni sekitar Rp 4 juta. Modal itu dipakainya untuk membuat jaket sebesar Rp 2 juta, pengadaan modul sebesar Rp 1 juta, dan sisanya sebagai biaya operasional. Pengajarnya sampai saat ini 8 orang yang semuanya lulusan S1. Tiap pengajar tidak diperbolehkan mengajar mata pelajaran yangtidak sesuai kapasitasnya. Ini untuk menyiasati agar konsumen merasa puas.
Para pengajar dibayar sesuai dengan program yang ditanganinya. Untuk program privat, honor pengajar antara Rp 12.500 – Rp 15 ribu tiap pertemuan. Untuk program reguler, honor pengajar antara Rp 17.500 – Rp 20 ribu.
Yuni membidik siswa mulai SD sampai SMA. Untuk program reguler, diperuntukkan bagi siswa SD dan SMP. Untuk privat, dikhusukan bagi siswa SMA. Hanya saja, untuk program reguler, masih didominasi siswa SD. “Kelihatannya, pihak sekolah di sekitar tempat saya masih trauma dengan adanya lembaga bimbingan belajar yang hanya sekedar mencari uang semata. Mereka (bimbingan belajar –red) menyelenggarakan try out, tetapi bobot soalnya hanya itu-itu saja,” ujar lelaki kelahiran 25 Juni 1983 ini.
Yuni mengaku, untuk bisa impas dalam program reguler, diperlukan siswa sebanyak 10 orang. Dengan 10 siswa, seluruh biaya operasional sepanjang satu semester bisa tercukupi. Lebihnya dari 10 siswa yang ikut program reguler, maka biaya yang dibayar siswa menjadi keuntungannya.
Maka, Yuni pun menjanjikan siswa dengan cashback guarantee bila mereka ada yang tidak lulus atau tidak naik kelas. Jika ada satu atau dua siswa tidak naik kelas, itu bukan permasalahan baginya untuk mengembalikan dana pendidikan. Toh, sudah melewati titik impas. “Tidak ada orang tua yang ingin anaknya naik kelas. Kami juga punya komitmen untuk itu. Dengan adanya garansi ini akan jadi lebih membuat percaya konsumen kami,” katanya.
Prospek lembaga bimbingan belajar masih cukup bagus. Perhatian orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik buat anaknya, adalah alasan peluang dalam bisnis ini. Yang terpenting, utamakan aspek kepuasan pelanggan.
Yuni pernah mengalami titik kritis. Titik ini adalah kondisi ketika usaha mendapatkan permintaan yang besar, namun kemampuan terbatas. “Kami harus mengkomposisi gaji karyawan dan kemungkinan merekrut karyawan baru, untuk tetap bisa memberikan kepuasan pelanggan,” ujar lelaki yang hobi baca ini. “Jika titik kritis ini terlewati, manajemen harus tetap konsisten mempertahankan kepuasan konsumen agar tidak jatuh,” tambahnya.
Tidak ada kendala yang berarti bagi Yuni saat ini. Hanya saja, dia memang harus menyesuaikan perubahan manajerial dari yang sederhana ke manajemen yang lebih kompleks. Wajar saja, pertumbuhan usahanya ini cukup bagus. Pada 2009 ini, lembaganya menangani 22 siswa untuk program reguler dan sekitar 12 siswa untuk privat. Dan, untuk pemesan tempat di semester selanjutnya (2010), sudah mencapai lima siswa. Jumlah ini masih diperkirakan akan naik. Itu pun, Yuni belum melakukan promosi apapun.
Bagi Anda yang ingin terjun di bisnis ini, Yuni berpesan, gunakan cara berpromosi yang berbeda dengan yang sudah ada. “Dan, jangan mencampuradukkan keuangan pribadi dengan keuangan yang dipakai untuk bisnis,” pungkasnya
Selanjutnya... Share
Gerai Al Fath, Solo, misalnya, selalu ramai sepanjang Ramadan hingga Hari Raya Lebaran. Omset bisa meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Kunjungan per hari rata-rata 500 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 100 orang yang bertransaksi. Dan, angka ini makin meningkat saat Ramadan.
Pelanggannya bukan cuma warga Solo Raya. Permintaan busana muslim dari pedagang Kalimantan cukup tinggi. Bahkan, pedagang dari Malaysia dan Singapura juga ada yang kulakan pada Al Fath.
Toko busana muslim Savannah juga menuia berkah. Omset kala Ramadan bisa meningkat hingga empat kali lipat. “Mungkin ini dipicu oleh kesadaran untuk berbusana muslim, tanpa meninggalkan nilai estetika,” ujar Santi Syafino, pemilik Savannah.
Kedua toko ini bermain di segmen berbeda. Al Fath membidik kelas menengah ke atas, sedangkan Savannah bermain pada segmen menengah. Ini berimplikasi pada harga. Produk Al Fath dijual antara Rp 60 ribu-Rp 3 jutaan, sedangkan di Savannah berkisar Rp 50 ribu – 300 ribu.
Pada umumnya pembeli mencari ghamis, blus, baju koko, dan berbagai perlengkapan seperti mukena, sarung, atau peci.
Wanita muslim jadi pangsa potensial. Pilihan model busananya sangat beragam. Bisa dipastikan, busana muslimah, termasuk kerudung, selalu mengikuti tren. “Tren menjelang akhir 2009 ini adalah kerudung dengan bahan paris. Bentuknya segi empat dengan aksen etnik,” kata Susi Lestari, Manajer Al Fath Solo.
Selain itu, jilbab segi empat berhiasan payet di pinggir juga diincar pembeli. Hiasan payet menjadi lebih terkenal setelah dikenakan oleh pemeran utama dalam sinetron Manohara. Sebut saja jilbab Manohara pasti lebih mudah diingat. “Di Savannah, saat booming kerudung jenis ini, bisa laku sampai 100 buah per hari,” kata Santi, yang punya lima karyawan.
Sekalipun dominasi penjualan pada busana wanita, kebutuhan busana pria (baju koko) tetap diperhatikan. Modelnya masih memakai bordiran. Namun, oleh tim kreatif Al Fath, baju koko dikombinasi dengan bentuk jas. Inovasi ini diberi nama Jasko alias Jas Koko. Bisa dipakai pada acara resmi atau semi resmi.
Model baru memang mendukung ramainya penjualan. Itu sebabnya Savannah tiap bulan selalu menghadirkan puluhan model baru.
Sementara itu, di Lebaran ini Al Fath merilis produk busana muslimah Alluring Pesona, Natural Colour, dan mukena Raffles. Alluring Pesona adalah busana muslimah yang didominasi warna tanah, sedangkan Natural Colour menonjolkan warna krem, dusty, dan coklat muda. Keduanya beraksen payet. Hanya saja, untuk Alluring Pesona, dipermanis dengan ponco yang unik.
Busaha Savannah ada yang desain sendiri (30%) dan ada pula yang kulakan. “Selain kami memiliki team desain sendiri, juga mengambil busana dari industri rumah tangga yang menjadi mitra kami,” ujar Susi mengenai stok busana di Al Fath.
Untuk menarik pengunjung, dilakukan program promosi dengan pemberian diskon. Tapi, lebih pada pengenalan busana-busana unggulan. Savannah menggelar acara bernama Tren Lebaran. Di situ dipromosikan koleksi terbaru yang disesuaikan untuk Hari Raya Lebaran.
Selain itu, Al Fath melakukan diversifikasi usaha jelang Ramadan. Yaitu, membuka salon jilbab pada 10 Agustus 2009. Salon ini melayani jasa pemakaian jilbab, beserta variasinya sesuai keinginan konsumen. Persis salon yang melayani pemakaian sanggul untuk acara resmi.
“Memakai jilbab itu tidak sembarangan. Bentuk wajah dan kenyamanan harus diperhatikan. Kadang ada yang pakai jilbab, lalu tiba-tiba merasa pusing. Itu bisa saja terjadi pada pemakaian jilbab yang kurang nyaman,” ujar Susi yang optimistis pada usaha baru ini. Target salon jilbab adalah untuk wanita yang mau datang ke suatu acara resmi, dan mahasiswi yang berwisuda memakai jilbab.
Baik Al Fath maupun Savannah sepakat menawarkan produk busananya dengan pakem yang khas. Karakter masyarakat Solo saat ini, menurut Susi, sudah ada kesadaran untuk berjilbab. Ini peluang besar. Pada pemilihan warna busana, sangat memperhatikan kondisi warna kulit.
Adapun catatan Santi, kosumen Solo cenderung menyukai warna-warna kalem dan cerah. Warna gelap, kurang disukai.
***
Bagaimana penjualan buku-buku Islami? Pasti melonjak di kala Ramadan. Namun, kenaikan kali ini hanya pada nilai transaksi. Jumlah eksemplar yang terjual bisa dikatakan menurun.
Penyebabnya adalah kenaikan harga kertas beberapa waktu lalu. Akibatnya, harga buku naik 15-20%. Otomatis secara eksemplar pun menurun. “Dari perjalanan sejak awal tahun 2009, penjualan buku Islam mengalami kelesuan.
Sebenarnya tanda-tanda sudah terlihat saat Agustus tahun lalu. Bahkan, ketika harga buku diobral di pameran pun, kurang laku. Mungkin, terlalu banyak pameran juga barangkali,” kata M.A. Sutyaji, Manajer Toko Buku Arafah. Ramadan kali ini kenaikan omset diperkirakan tidak terlalu tinggi.
Faktor kejenuhan diduga turut andil. Banyak buku Islam di pasaran adalah hasil terjemahan dari penulis dari Timur Tengah. Mereka tidak menerapkan lisensi khusus. Karya para penulis itu boleh disebarluaskan berbagai penerbit tanpa perlu membayar royalti. Penerbit cukup minta izin dan tinggal mencetak.
Akibatnya, muncul buku dengan berbagai judul, padahal isinya dari satu sumber buku sama. Konsumen akhirnya kecewa, lantaran judul berlainan padahal isinya sejenis. Faktor ini jadi hambatan dalam mempromosikan buku Islam.
Penerbit buku umum, terutama buku pelajaran, ada pula yang tertarik menerbitkan buku bertema Islami. “Namun efeknya juga bisa membuat jenuh pembaca. Minat baca terhadap buku Islami, sebenarnya cukup tinggi, namun perlu variasi dari isi dan tema yang ditawarkan. Bukan buku dengan aneka judul, tapi isinya seragam,” ujar Sutyaji.
Biasanya, buku yang dicari konsumen saat Ramadan adalah tuntunan praktis atau lebih dikenal dengan sebutan buku Islam populer. Misalnya, buku fikih, ibadah, dan penyucian hati (taskiyah). Konsumen cenderung menyukai bacaan yang bisa langsung dipraktekkan.
Sekitar 15-20 judul baru tersedia tiap bulan di Toko Arafah. Sekalipun selera buku Ramadan berkenaan dengan tuntunan praktis, pada hari biasa, justru buku yang menjadi “kitab induk” malah lebih banyak terjual.
Kitab Induk adalah sebutan buku pegangan umat Islam dalam memahami ajaran Islam. Misalnya, Tafsir Ibnu Katsir, Al ‘Umm karya Imam Syafi’i, dan kitab karya ulama terkenal (khibar) lainnya. Buku ini tersedia dalam tulisan arab gundul maupun edisi terjemahan. Pembelinya umumnya santri dan mahasiswa.
“Dalam sebulan, omset penjualan buku berklasifikasi kitab induk bisa mencapai Rp 50 juta. Nilai ini mengalahkan penjualan buku-buku Islam lainnya di tempat kami,” kata Sutyaji. Harga per eksemplarnya memang sedikit lebih mahal, sekitar Rp 60 ribu.
Buku-buku Islam populer kebanyakan dibanderol Rp 30 ribuan. Arafah setiap bulan mendata sekitar 10 buku yang best seller. Lima peringkat teratas setidaknya terjual sekitar 30 sampai 100 eksemplar.
Program diskon jadi salah satu senjata menarik. Di hari biasa, buku-buku Islam di Arafah didiskon 15-20%. “Ramadan ini kami menggelar bursa buku yang bekerja sama dengan penerbit. Keistimewaannya, harga netto setelah diskon tadi, masih kami berikan tambahan diskon 5-10 persen,” tutur Sutyaji.
Diskon yang tinggi tak membuat rugi toko atau penerbit? “Penerbit itu mau memberi diskon sampai 70 persen sekalipun, dia tidak rugi, kok,” kata Sutyaji yang memiliki enam karyawan.
(Dimuat Majalah Saudagar edisi Oktober 2009)
Selanjutnya... Share
Anda tinggal berkoneksi lewat internet, lalu barang dan spesifikasi tersebut terpampang di layar komputer. Jika oke, tinggal pesan, bayar, dan barang akan diantar ke rumah. Pembayaran bisa dilakukan via ATM. Jika ragu, bisa dieliminasi lewat internet banking.
Meleknya masyarakat pada internet memang jadi peluang bagi penjual. Hendrawan Kustrijoko Saraswo adalah salah seorang pemilik toko online. Dia membawa konsep Pasar Klewer dalam menjual produk melalui website www.grosirpasarklewer.com. Pekerjaan ini dilakoni secara total setelah keluar dari job-nya di Jakarta tahun lalu. “Saya lihat pasar internet ini peluangnya sangat besar,” kata Koko, panggilan Hendrawan.
Koko terinspirasi dari seorang pengusaha yang membuka toko online. Awalnya ia memang hobi berselancar di berbagai website jual-beli. Tekad pun dia bulatkan untuk mempelajari seluk beluk perdagangan internet.
Ia memilih konsep Pasar Klewer--ikon Kota Solo--yang juga kediamannya. Maka, yang dijual Koko tidak lepas dari busana keseharian dan lebih tersegmen. Kesan Pasar Klewer adalah jualan barang murah tapi berkualitas memadai. Tidak heran jika busana yang ditawarkan Koko mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 80 ribu. Itu pun bisa diretur bila terjadi cacat pabrik. Murah, bukan?
Selain menjual keunikan Pasar Klewer di website-nya, Koko mempunyai alasan lain terhadap pemilihan produk yang dijual. Kemudahan pengiriman barang turut pula diperhatikan. Semakin barang mudah dikemas, maka pengiriman ke pembeli tidak membutuhkan waktu lama. “Perlu juga memilih jasa ekspedisi yang bonafit agar barang cepat diterima oleh pembeli,” ujarnya.
Melalui beberapa jasa ekspedisi yang dipakainya, barang bisa sampai ke pembeli berselang dua hari dari pemesanan, untuk wilayah Jawa. Pemesanan dari luar Jawa waktunya bisa lebih dari itu, tergantung jarak dan kemampuan dari jasa ekspedisi.
Alur jual beli di toko online Koko cukup mudah. Pembeli tinggal membuka website, lalu memilih barang-barang yang dikehendaki. Anda ingin membeli? Isi saja formulir pembelian yang ada, berupa data pembeli dan spesifikasi barang yang dipesan. Berhubung penjualan grosir, maka minimal pembelian tiga potong baju.
Bila formulir pesanan sudah diisi, pihak Koko akan mengkonfirmasi balik kepada pembeli perihal jumlah uang yang harus dibayarkan dan biaya pengiriman melalui e-mail. Setelah itu pembeli, tinggal membayar ke rekening tertentu dan menunggu barang di alamat yang tertera. Jika pembayaran diterima sebelum pukul 13.00, hari itu pula barang bisa dikirimkan. Jika lewat dari jam tersebut, barang dikirim esok harinya.
“Bagi pelaku bisnis online, memiliki rekening yang bisa diakses lewat internet banking sangat diperlukan. Kita bisa cek saldo secara real time. Jadi, kita bisa memantau apakah transfer dari pembeli sudah sampai atau belum, tanpa perlu mendatangi bank dan minta print out buku dulu,” ucap Koko.
Pembeli tidak hanya bisa membayar lewat transfer bank atau ATM, juga bisa memanfaatkan layanan transfer online nonbank. Misalnya, jasa wesel Western Union atau jasa Paypal. Makin banyak kemudahan pembayaran, keleluasaan pembeli untuk bertransaksi makin terpenuhi.
Koko dibantu tujuh karyawan. Mereka terbagi atas pekerjaan manajemen web dan administrasi, gudang, fotografi, dan suplai barang. Koko sendiri lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan search engine optimizer (SEO).
SEO adalah langkah-langkah untuk mengusahakan sebuah website mampu tampil, minimal pada halaman pertama sebuah search engine atau mesin pencari. Syukur-syukur, bisa menduduki urutan pertama pada halaman awal pula. Biasanya, pengguna internet akan memanfaatkan search engine untuk mempercepat kerja mereka mencari website-website dengan kata kunci tertentu. Google dan Yahoo adalah beberapa contoh dari search engine.
“Website grosir pasar klewer sudah bisa berada di halaman pertama untuk Google dengan kata kunci grosir, grosir pakaian, dan grosir baju,” ujar Koko dengan nada bangga.
Sekalipun Koko mengawali bisnis ini setahun lalu--tanpa outlet--dia mengaku pembeli di toko online bertambah ramai. Pada masa launching Mei 2008, pembeli hanya sekitar sembilan orang per bulan. Namun, setelah hampir 1,5 tahun berjalan, pembeli sudah mencapai rata-rata 500 orang per bulan, dengan jumlah pembelian rata-rata per orang Rp 100 ribu. Pembelinya tersebar di Jawa, Sumatera, Bali, sampai Kalimantan.
Pengunjung website grosir pasar klewer juga sudah mencapai 10-15 ribu user per bulan. Tingginya angka ini berpotensi sebagai media iklan. Tapi, Koko tidak terlalu berobsesi pada penjualan iklan. Jika ada yang ingin pasang banner iklan di websitenya, ia mematok tarif 200 ribu per tiga bulan. Untuk tulisan link (bisa mengakses ke alamat lain) dia menggratiskan.
Bagi lelaki kelahiran 12 Juni 1981 ini, penjualan lewat website terhitung sangat menghemat biaya promosi. Mendaftarkan website ke search engine, direktori, jejaring sosial, milis, hingga iklan online yang bertaburan di dunia maya, sudah bisa dijadikan promosi yang murah.
Memang, saat merintis, Koko aktif pula memasarkan websitenya via email atau beriklan di majalah. Namun ketika website sudah dikenal, promosi jadi lebih efisien. Konsumen pun lebih mudah menemukan barang yang diinginkannya lewat internet.
Pemangkasan biaya marketing dan promosi ini memungkinkan harga barang dijual lebih murah dari pasaran. Hanya saja untuk memudahkan konsumen mengenali produk, perlu penjelasan detail yang disampaikan di website. “Misalnya, dalam busana yang kami jual disertakan penjelasan mengenai bentuk kerah, bahan, warna, dan kancing. Kita harus pandai membuat penjelasan seolah-olah pembeli merasakannya langsung,” ucap suami Diah Nugraheni ini.
Agar pembeli percaya bahwa websitenya tidak menipu, Koko tidak menerapkan batasan pembelian. Kalau ada pembeli yang memesan tiga busana seharga total Rp 30 ribu pun dilayani. Ini sekaligus turut memberi penjelasan kepada pembeli tentang kualitas barang yang dijualnya.
Hambatan yang dialami Koko kini lebih pada permodalan. Makin banyak modal yang digunakan, makin tinggi pula peluang untuk mendapatkan omset yang besar. Modal lebih banyak dipakai untuk kulakan barang yang dijual. Stok yang banyak dan beragam akan memberikan pilihan yang lebih banyak pula pada pembeli.
Memang jualan di toko online bisa diakali dengan menyediakan barang setelah ada pesanan. Namun, jenis barang yang mengikuti mode, seperti busana, cara penjualan ini berisiko. Bisa jadi barang yang dipesan, tidak ada lagi di pasaran. Atau, bisa pula kesulitan mencari barang pesanan, sehingga pengiriman barang ke pembeli menjadi terlambat. Langkah paling aman jualan barang yang mudah berubah mode adalah menyediakan stok sendiri.
(Dimuat di Majalah Saudagar edisi Oktober 2009)
Suatu benda yang terbungkus rapi dan tampil beda, pasti sedap dipandang. Kado pernikahan, misalnya, akan terasa istimewa jika dibentuk dengan sentuhan unik, kendati sekarang ini kado amplop dianggap praktis dan lebih sesuai dengan kebutuhan pengantin baru.Adalah Ika Yuliarti beserta temannya, yang suatu hari mau menghadiri pernikahan sahabat mereka. Ika ingin memberi kado kenangan, dan tinggal mencari wadahnya. Dia pun jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. “Gila. Box kecil saja harganya sudah Rp 40 ribu,” ujar Ika, seperti tak percaya.
Maka, Ika pulang dengan tangan kosong. Ia putuskan sendiri membuat box kado sembari memanfaatkan imajinasinya. Tak berhenti di sini, Ika “keterusan” mengemas barang jadi sebuah bisnis. Bersama Nadia, Adit, “Breng”, dan Ono, bisnis box packaging digagas. Bisnis ini pun bergulir, melayani pesanan kecil-kecilan teman-teman.
Langkah Dwi Cahyono, 30 tahun, berbeda pula. Awalnya ia sempat bingung lantaran tempat kerjanya lagi surut. Dia pun keluar. Di tempat kerjanya itu, Dwi menangani bisnis box packaging di bagian finishing. Karena kepepet, Dwi memaksakan diri terjun di bisnis yang sama.
Terus terang Dwi buta soal cara memproduksi. Tapi, tekadnya yang kuat memaksa dia untuk belajar. Dwi maupun Ika dan kawan-kawan memulai bisnis ini sejak setahun lalu. Ternyata, bisnis ini cukup diminati konsumen. Perseorangan maupun perusahaan perlu layanan packaging.
Packaging adalah bisnis pengemasan barang. Setelah dikemas, sebuah tampilan barang punya nilai tambah. Unik dan menarik. Seseorang menggunakan jasa box packaging, biasa untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, pengemasan kado, membuat wadah sepatu, wadah tata rias, wadah aksesoris, dan sebagainya. Bisnis packaging biasanya bukan produk massal.
Jasa packaging dipakai untuk menambah nilai promosi. Dwi, misalnya, menerima order dari perusahaan rokok berkait packaging promosi. Dibuatlah kemasan promosi rokok yang ada korek apinya. Produk yang akan dilaunching juga acap memakai jasa packaging, dan jumlah ribuan pieces.
Bahan utama box packaging adalah kertas. Yaitu jenis kertas vensy dengan ketebalan tertentu. Ini kertas impor yang cukup mahal. Per meter sekitar Rp 12 ribu – Rp 120 ribu. Semakin mahal, kualitasnya makin bagus. “Maka, saat bernegosiasi dengan klien, harus dipastikan dulu jenis kertasnya,” ujar Dwi.
Kunci utama sebelum mengerjakan pesanan adalah menemukan pola box. Biasanya klien minta dibuatkan box berbentuk tertentu. Keinginan itu diterjemahkan dengan sebuah pola utama. Jika sudah oke, pengerjaan berikutnya lebih mudah. Penemuan pola akan terasa lebih mudah jika sudah terbiasa.
Bahan finishing tiap cover berbeda-beda, tergantung kesepakatan dengan klien. Bahan untuk finishing, biasanya, berubah sesuai mode pada eranya. Tahun 1999-2002, misalnya, saat bisnis ini booming di Jakarta, bahan finishing berkonsep natural, setelah sebelumnya banyak memakai cover daur ulang. Bahan-bahan alam pun dipakai.
“Saya dulu memanfaatkan gedebog pisang dan daun waru untuk finishing. Konsep natural kemudian tergeser oleh konsep cover kain, sejak 2002-2006. Dan, sejak 2006 sampai sekarang, masih didominasi finishing dengan bahan kain dan natural,” papar Dwi yang menawarkan karya-karyanya di kaki lima saat mengawali usaha. Ia memprediksi pemakaian bahan daur ulang sebagai cover akan kembali ngetren tapi dengan konsep yang lebih beda.
Soal promosi, Ika dan Dwi mengandalkan getok tular. Sekali pun demikian, keduanya juga aktif mengenalkan usaha lewat internet. Ika memajang hasil karya bersama teman-temannya melalui facebook dan blog. Intinya, agar konsumen setidaknya tahu eksistensi mereka.
Dwi yang memulai usaha di kaki lima, sempat pula menjajakan barang kerajinan, sebelum link usahanya terbentuk. Rencananya, Dwi ingin kerja sekaligus usaha. Tapi, ketidakfokusan itu membuat usahanya keteteran, sebab pesanan packaging makin banyak.
Apa boleh buat, Dwi keluar dari kerja. Ia fokus ke bisnis packaging dengan menggandeng dua rekannya. Setelah itu, promosi lebih banyak memanfaatkan dari mulut para konsumen yang puas atas hasil kerjanya.
Modal usaha ini tidak banyak. Yang penting, otak harus encer untuk menelorkan berbagai kreativitas merancang box kemasan. “Modal saya dan teman-teman waktu itu Rp 900 ribu, urunan bersama teman-teman,” ucap Ika.
Modal Dwi malah hanya Rp 200 ribu. Kini, bisnisnya sudah menghasilkan laba pemasukan minimal Rp 6 juta per bulan. Itu belum termasuk pesanan insidentil di luar klien loyal.
Jadi, soal modal, menurut Dwi, bukan penghalang untuk terjun di bisnis ini. Bahkan, modal itu, sebenarnya bisa didapat dari klien sendiri. Mereka biasanya memberikan uang down payment (DP) yang bisa dipakai sebagai modal kerja. Soal bahan mentah, tidak perlu dana besar lagi.
Artinya, peluang ini menjanjikan. Namun kualitas jangan sampai disepelekan. Bisnis ini sangat rentan terhadap komplain konsumen. Dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan tinggi. Jika kurang rapi, bisa-bisa konsumen menolak membayar dengan harga penuh.
Itulah yang dialami Ika. Dia harus menanggung risiko gara-gara ada box packagingnya yang tidak rapi. Kesepakatan awal, klien memesan 500 box dengan harga Rp 4 ribu per item. Setelah ada komplain, klien hanya mau membayar Rp 3.800 per box. Artinya, Rp 200 lebih murah dari kesepakatan.
“Tantangan bisnis box packaging memang ada pada tipe klien. Wajar bila klien tidak terima ketika hasil karya kita kurang memenuhi standar. Tapi, jika sudah ketemu klien bertipe perfeksionis, itu yang bikin kerjaan jadi tambah lama,” keluh Dwi.
Klien jenis ini seringkali melakukan perubahan mendadak, padahal box yang dibuat sebelumnya sudah sesuai kriteria pesanan. “Namanya juga klien, saya pun harus sabar mengikuti kemauannya,” imbuhnya.
Tidak ada patokan khusus soal harga box per item. Soalnya, tiap pesanan membawa konsekuensi tentang harga bahan, jenis bahan, detail, sampai finishing. Dan, tiap pesanan berbeda spesifikasi. Maka, komposisi harga jual pun negosiasi.
Dwi mengaku harga jual boxnya dua kali dari harga pokok produksi. Sedangkan Ika, enggan menyebutkan rumus harga jualnya. Ia hanya menyebut karyanya dijual mulai seribu sampai ratusan ribu rupiah.
Yang pasti, bisnis ini berpotensi jadi tumpuan hidup. Jika ditekuni, bisa pula menjadi sebuah usaha besar. “Kuncinya harus sabar, kreatif, produk yang berkualitas, dan selalu mengikuti perkembangan selera konsumen,” ujar Dwi.
Bisnis box packaging cukup ramai di Jakarta. Namun, di luar kota besar, masih jadi tantangan untuk dikembangkan. Anda berminat mencoba?
(Dimuat di Majalah Saudagar Edisi Oktober 2009)
Selanjutnya... Share


