Home » , » Pasar Suryo: Berburu Rupiah di Tengah Hutan

Pasar Suryo: Berburu Rupiah di Tengah Hutan


Tak biasanya pasar tradisional berada di dalam hutan. Namun di kawasan Wana Wisata Monumen Suryo, Ngawi, sebuah pasar berdiri di sana dan menjadi bagian di dari wana wisata. Pengunjungnya kebanyakan memakai mobil dengan plat berasal dari luar Ngawi. Lebih dari 20 tahun pasar tersebut eksis.

Pasar terletak sekitar 63 km dari Solo, atau kurang lebih 18-19 km dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah melewati perbatasan tersebut, hutan jati di kanan kiri jalan, menemani sepanjang perjalanan. Cukup berbahaya kalau perjalanan dilakukan malam hari. Tanpa lampu jalan yang biasa ditemui di kota. Dan, jalanan mulai dari perbatasan hingga ke kota Ngawi adalah jalur yang biasa dipakai bajing loncat untuk beraksi di waktu malam. Alhasil banyak truk pengangkut muatan jadi incaran perampokan saat melewati jalan yang menjadi salah satu pintu masuk ke berbagai daerah di Jatim.

Jika melihat sekilas, terasa tidak ada yang menarik. Kawasan terlihat tidak tertata rapi dan kurang terurus. Kios yang ada bersifat semi permanen. Bau tidak sedapkadang menyengat di hidung. Tapi justru pasar ini yang menjadi daya tarik pengunjung.

Apa istimewanya? Secara umum yang dijual di pasar ini adalah burung dan kerajinan kayu. Dari 52 kios yang ada, sebagian besar dihuni penjual burung dengan aneka pilihan jenis. Seperti kutilang, kenari, cendana, sampai ke murai batu. Tidak hanya burung, sebagian kecil dari pedagang buruh ini juga menyediakan ayam hutan dan monyet.

“Jualan saya yang paling murah adalah kutilang. Harganya 25 ribu,” kata Djari yang berjualan burung sejak 1982. “Saya juga punya murai batu yang harganya mencapai 600 ribu,” lanjut lelaki 63 tahun ini.

Barang dagangan mereka berasal dari hutan dengan jalan menangkap sendiri. Ada pula didapat dari pengunjung yang menjual koleksi piaraannya. Namun, kata Djari, ada pula yang menyetor stok barang ke mereka. “Saya lebih sering mendapatkan barang dari pengunjung yang menjual burung piaraanya,” tukas Djari.

Penjual monyet atau ayam hutan jumlahnya masih dalam hitungan jari satu tangan. Paling hanya dua hingga tiga kios yang menjualnya. Hesti (bukan nama sebenarnya), misalnya, menjual burung dan monyet yang berusia satu tahunan. Dia mengaku menjual monyet jenis monyet pantai berbulu kuning keemasan. Harga penawarannya 650 ribu.
“Memelihara monyet ini sangat mudah. Makannya tinggal dikasih ubi. Monyet ini juga sudah lulut (jinak –red). Jadi tidak galak kalau pingin gendong,” tukas Hesti.
Setiap pedagang membayar sewa kios per bulan 10 ribu. Uang itu diserahkan kepada Perhutani setempat. Tidak ada retribusi harian. Namun, di luar itu, masih ada pungutan lain yang harus dibayarkan. Misalnya, uang penjaga malam. “Saya masih membayar 40 ribu per bulan untuk yang jaga malam,” ujar Djari.

Sekalipun tidak sebanyak kios hewan, kios kerajinan turut menwarkan aneka produk olahan kayu jati yang cukup kreatif. Desainnya tak kalah dengan produk dari pabrik kayu olahan modern. Contoh karya yang bisa dibeli seperti tempat buah spiral, guci kayu, asbak, lampu berbentuk petromaks, hingga replika rusa yang sangat mirip aslinya.

Barang kerajinan tersebut ternyata buatan masyarakat sekitar Ngawi. Banyak dari perajin yang menitipkan atau menjual barang dagangan di pasar itu. “Biasanya masyarakat Ngawi dari daerah agak pedalaman yang membuat kerajinan ini,” ujar Suparmi, wanita 75 tahun yang berjualan bersama suaminya.

Pasar di wana wisata biasa ramai saat akhir pekan, Sabtu ataupun Minggu. Keramaiannya, dilukiskan Djari, terdapat lebih banyak mobil yang datang di sana. Ada yang memborong kerajinan atau membeli rajakaya yang ada. Ramainya pasar ini juga mengenal masa pemerintahan negara yang ada saat itu.

“Pada waktu pak Harto masih menjabat, uang yang bisa saya dapatkan bisa untuk menyekolahkan anak. Per hari bisa mendapat sekitar 500 ribu. Pasar lebih ramai dari saat ini. Sejak reformasi sampai sekarang, dalam seminggu saja, belum tentu bisa laku burung yang saya jual,” keluh Djari tanpa mau menyebut besaran pendapatannya sekarang.

Keadaan ini juga dialami Suparmi. Dia juga mengalami penurunan omset ketika terjadi masa transisi orde pemerintahan. “Sekarang ini sangat sulit menjual dagangan,” kata wanita yang tak malu tidur malam di sisa lantai kiosnya sembari menjaga dagangannya agar tak dicuri.

Pemkab Ngawi, kata Djari, pernah menjanjikan mengembangkan kawasan wisata ini dengan beragam fasilitas yang mendukung bertambahnya jumlah kunjungan. Tapi itu hanyalah janji. “Sampai sekarang rencana itu belum terwujud. Biarlah kami di sini berjalan seadanya,” tukas Djari. Toh, tanpa dukungan berarti dari Pemkab, pasar ini masih dicari.

Comments
1 Comments

1 orang bicara:

BATIK ONLINE said...

Terjebak atau tak mampu kembangkan potensi?