Home » , , , , , » Dari Jasko Hingga Manohara

Dari Jasko Hingga Manohara

Ramadan bukan hanya bulan penuh ampunan, bagi umat Islam. Juga bulan berkah berlipat bagi sebagian pebisnis bersegmen agamis. Bisnis busana muslim, misalnya, tetap meningkat pasca-Lebaran. Begitu pula dengan kehadiran buku-buku Islami ikut terdongkrak naik.

Gerai Al Fath, Solo, misalnya, selalu ramai sepanjang Ramadan hingga Hari Raya Lebaran. Omset bisa meningkat tiga kali lipat dari biasanya. Kunjungan per hari rata-rata 500 orang. Dari jumlah itu, lebih dari 100 orang yang bertransaksi. Dan, angka ini makin meningkat saat Ramadan.

Pelanggannya bukan cuma warga Solo Raya. Permintaan busana muslim dari pedagang Kalimantan cukup tinggi. Bahkan, pedagang dari Malaysia dan Singapura juga ada yang kulakan pada Al Fath.

Toko busana muslim Savannah juga menuia berkah. Omset kala Ramadan bisa meningkat hingga empat kali lipat. “Mungkin ini dipicu oleh kesadaran untuk berbusana muslim, tanpa meninggalkan nilai estetika,” ujar Santi Syafino, pemilik Savannah.

Kedua toko ini bermain di segmen berbeda. Al Fath membidik kelas menengah ke atas, sedangkan Savannah bermain pada segmen menengah. Ini berimplikasi pada harga. Produk Al Fath dijual antara Rp 60 ribu-Rp 3 jutaan, sedangkan di Savannah berkisar Rp 50 ribu – 300 ribu.

Pada umumnya pembeli mencari ghamis, blus, baju koko, dan berbagai perlengkapan seperti mukena, sarung, atau peci.

Wanita muslim jadi pangsa potensial. Pilihan model busananya sangat beragam. Bisa dipastikan, busana muslimah, termasuk kerudung, selalu mengikuti tren. “Tren menjelang akhir 2009 ini adalah kerudung dengan bahan paris. Bentuknya segi empat dengan aksen etnik,” kata Susi Lestari, Manajer Al Fath Solo.

Selain itu, jilbab segi empat berhiasan payet di pinggir juga diincar pembeli. Hiasan payet menjadi lebih terkenal setelah dikenakan oleh pemeran utama dalam sinetron Manohara. Sebut saja jilbab Manohara pasti lebih mudah diingat. “Di Savannah, saat booming kerudung jenis ini, bisa laku sampai 100 buah per hari,” kata Santi, yang punya lima karyawan.

Sekalipun dominasi penjualan pada busana wanita, kebutuhan busana pria (baju koko) tetap diperhatikan. Modelnya masih memakai bordiran. Namun, oleh tim kreatif Al Fath, baju koko dikombinasi dengan bentuk jas. Inovasi ini diberi nama Jasko alias Jas Koko. Bisa dipakai pada acara resmi atau semi resmi.

Model baru memang mendukung ramainya penjualan. Itu sebabnya Savannah tiap bulan selalu menghadirkan puluhan model baru.

Sementara itu, di Lebaran ini Al Fath merilis produk busana muslimah Alluring Pesona, Natural Colour, dan mukena Raffles. Alluring Pesona adalah busana muslimah yang didominasi warna tanah, sedangkan Natural Colour menonjolkan warna krem, dusty, dan coklat muda. Keduanya beraksen payet. Hanya saja, untuk Alluring Pesona, dipermanis dengan ponco yang unik.

Busaha Savannah ada yang desain sendiri (30%) dan ada pula yang kulakan. “Selain kami memiliki team desain sendiri, juga mengambil busana dari industri rumah tangga yang menjadi mitra kami,” ujar Susi mengenai stok busana di Al Fath.

Untuk menarik pengunjung, dilakukan program promosi dengan pemberian diskon. Tapi, lebih pada pengenalan busana-busana unggulan. Savannah menggelar acara bernama Tren Lebaran. Di situ dipromosikan koleksi terbaru yang disesuaikan untuk Hari Raya Lebaran.

Selain itu, Al Fath melakukan diversifikasi usaha jelang Ramadan. Yaitu, membuka salon jilbab pada 10 Agustus 2009. Salon ini melayani jasa pemakaian jilbab, beserta variasinya sesuai keinginan konsumen. Persis salon yang melayani pemakaian sanggul untuk acara resmi.

“Memakai jilbab itu tidak sembarangan. Bentuk wajah dan kenyamanan harus diperhatikan. Kadang ada yang pakai jilbab, lalu tiba-tiba merasa pusing. Itu bisa saja terjadi pada pemakaian jilbab yang kurang nyaman,” ujar Susi yang optimistis pada usaha baru ini. Target salon jilbab adalah untuk wanita yang mau datang ke suatu acara resmi, dan mahasiswi yang berwisuda memakai jilbab.

Baik Al Fath maupun Savannah sepakat menawarkan produk busananya dengan pakem yang khas. Karakter masyarakat Solo saat ini, menurut Susi, sudah ada kesadaran untuk berjilbab. Ini peluang besar. Pada pemilihan warna busana, sangat memperhatikan kondisi warna kulit.

Adapun catatan Santi, kosumen Solo cenderung menyukai warna-warna kalem dan cerah. Warna gelap, kurang disukai.
***
Bagaimana penjualan buku-buku Islami? Pasti melonjak di kala Ramadan. Namun, kenaikan kali ini hanya pada nilai transaksi. Jumlah eksemplar yang terjual bisa dikatakan menurun.

Penyebabnya adalah kenaikan harga kertas beberapa waktu lalu. Akibatnya, harga buku naik 15-20%. Otomatis secara eksemplar pun menurun. “Dari perjalanan sejak awal tahun 2009, penjualan buku Islam mengalami kelesuan.

Sebenarnya tanda-tanda sudah terlihat saat Agustus tahun lalu. Bahkan, ketika harga buku diobral di pameran pun, kurang laku. Mungkin, terlalu banyak pameran juga barangkali,” kata M.A. Sutyaji, Manajer Toko Buku Arafah. Ramadan kali ini kenaikan omset diperkirakan tidak terlalu tinggi.

Faktor kejenuhan diduga turut andil. Banyak buku Islam di pasaran adalah hasil terjemahan dari penulis dari Timur Tengah. Mereka tidak menerapkan lisensi khusus. Karya para penulis itu boleh disebarluaskan berbagai penerbit tanpa perlu membayar royalti. Penerbit cukup minta izin dan tinggal mencetak.

Akibatnya, muncul buku dengan berbagai judul, padahal isinya dari satu sumber buku sama. Konsumen akhirnya kecewa, lantaran judul berlainan padahal isinya sejenis. Faktor ini jadi hambatan dalam mempromosikan buku Islam.

Penerbit buku umum, terutama buku pelajaran, ada pula yang tertarik menerbitkan buku bertema Islami. “Namun efeknya juga bisa membuat jenuh pembaca. Minat baca terhadap buku Islami, sebenarnya cukup tinggi, namun perlu variasi dari isi dan tema yang ditawarkan. Bukan buku dengan aneka judul, tapi isinya seragam,” ujar Sutyaji.
Biasanya, buku yang dicari konsumen saat Ramadan adalah tuntunan praktis atau lebih dikenal dengan sebutan buku Islam populer. Misalnya, buku fikih, ibadah, dan penyucian hati (taskiyah). Konsumen cenderung menyukai bacaan yang bisa langsung dipraktekkan.

Sekitar 15-20 judul baru tersedia tiap bulan di Toko Arafah. Sekalipun selera buku Ramadan berkenaan dengan tuntunan praktis, pada hari biasa, justru buku yang menjadi “kitab induk” malah lebih banyak terjual.

Kitab Induk adalah sebutan buku pegangan umat Islam dalam memahami ajaran Islam. Misalnya, Tafsir Ibnu Katsir, Al ‘Umm karya Imam Syafi’i, dan kitab karya ulama terkenal (khibar) lainnya. Buku ini tersedia dalam tulisan arab gundul maupun edisi terjemahan. Pembelinya umumnya santri dan mahasiswa.

“Dalam sebulan, omset penjualan buku berklasifikasi kitab induk bisa mencapai Rp 50 juta. Nilai ini mengalahkan penjualan buku-buku Islam lainnya di tempat kami,” kata Sutyaji. Harga per eksemplarnya memang sedikit lebih mahal, sekitar Rp 60 ribu.
Buku-buku Islam populer kebanyakan dibanderol Rp 30 ribuan. Arafah setiap bulan mendata sekitar 10 buku yang best seller. Lima peringkat teratas setidaknya terjual sekitar 30 sampai 100 eksemplar.

Program diskon jadi salah satu senjata menarik. Di hari biasa, buku-buku Islam di Arafah didiskon 15-20%. “Ramadan ini kami menggelar bursa buku yang bekerja sama dengan penerbit. Keistimewaannya, harga netto setelah diskon tadi, masih kami berikan tambahan diskon 5-10 persen,” tutur Sutyaji.

Diskon yang tinggi tak membuat rugi toko atau penerbit? “Penerbit itu mau memberi diskon sampai 70 persen sekalipun, dia tidak rugi, kok,” kata Sutyaji yang memiliki enam karyawan.

(Dimuat Majalah Saudagar edisi Oktober 2009)

Comments
4 Comments

4 orang bicara:

Dony Alfan said...

Puasa tahun kemarin aku yo liputan tentang tren fashion jelang lebaran, wis jan rame tenan toko2

Redaksi LiputanOne said...

pas hari pertama puasa aja udah rame og

masiqbal said...

walopun komentar saya ga nyambung sama postingan ijinkan saya untuk mengucapkan :
Taqobballallahu minna wa minkum, Syiamana wa syiamakum,
Ja’alanallahu wa iyyakum, Minal aidin wal faizin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Mohon maaf lahir dan bathin, maapin segala salah dan khilafku selama ini ya…

haris said...

selamat idul fitri, mas. mohon maaf lahir batin.