Home » , , » Mbah Warni, Pembatik Senior di Kampung Batik Laweyan

Mbah Warni, Pembatik Senior di Kampung Batik Laweyan

Mbah Warni sedang makan pepaya dengan sendok perak tatkala LiputanOne menghampiri kamar kontrakannya yang sempit di wilayah Kampung Batik Laweyan, Solo. Kamar yang berukuran sekitar 3,5 x 6 meter tersebut, penuh sesak dengan pakaian dan kain berserakan tanpa dilipat. Dalam ruang panas dan pengap itu hanya ada sebuah kasur dan lemari, serta beberapa alat memasak. Sekalipun begitu, Mbah Warni sudah tinggal di kamar tersebut lebih dari 32 tahun.

Berpakaian pun apa adanya. Mbah Warni saat itu mengenakan kebaya hijau dengan bawahan jarit. Gaya busana senada wanita tempo dulu yang belum termakan mode baju. Rambutnya digelung kecil dan rata dengan uban. Kerutan di kulit badan dan cara berjalan yang agak membungkuk, mengiringi bertambahnya usia Mbah Warni yang lebih dari 60 tahun.

Sekilas wanita bernama lengkap Sri Suwarni ini tampak sebagai wanita biasa. Pendengarannya pun berkurang dan mesti berteriak bila ingin bicara dengannya. Namun dibalik itu, para saudagar batik di Laweyan cukup mengaguminya. Hasil goresan canting di tangannya, mampu memikat penggemar batik tulis yang menyukai motif tradisional. Tak heran bila terdengar ada saudagar maupun kolektor turut memesan batik hasil sentuhan Mbah Warni sebagai koleksi pribadi.

Wanita sebatang kara ini menjadikan keahliannya membatik sebagai tumpuan hidup. Sang suami, Suratman, meninggalkannya beberapa tahun silam. Kesedihannya pun belum berakhir. Tiga anak yang dicintainya juga tidak diberikan umur panjang. “Saya harus menghidupi diri saya sendiri. Berapa pun hasil yang saya dapatkan, saya syukuri”, ujar Mbah Warni sembari duduk pada emper kecil di depan kamarnya.

Mbah Warni memperoleh ilmu membatik dari tetangganya yang saudagar batik, yaitu Mangunsutomo. Mbah Warni saat itu masih duduk di sekolah dasar (SD). Dia membantu sekaligus belajar membatik seusai pulang sekolah. Mangunsutomo memiliki dua anak perempuan yang bisu tapi cekatan membuat batik halus. Salah satu dari mereka adalah teman bermain Mbah Warni yang bernama sama dengannya, Warni. Justru dari kedua anak inilah, Mbah Warni mempunyai semangat belajar membatik.

“Saya berpikir, yang bisu saja bisa mbatik. Kok saya nggak bisa. Lalu saya mantapkan untuk belajar membatik. Tidak dibayar pun saya rela,” kenang Mbah Warni sambil membakar arang untuk menghangatkan malam yang membeku di sebuah wajan kecil.

Pengorbanan Mbah Warni tidak sia-sia. Beberapa motif batik tradisional mampu dikuasainya, sekalipun tidak bisa menjelaskan fungsi masing-masing motif batik buatannya.

”Motif batik yang bisa saya buat banyak. Antara lain Parang Baris, Parang Kusumo, Truntum, Indrawasih, maupun Sidopeni.” ujar Mbah Warni sembari menunjukkan kain bermotif batik Indrawasih pesanan pelanggannya yang hampir jadi.

Selepas berguru di tempat Mangunsoetomo, Mbah Warni mengerjakan batik tulis di rumah bersama nenek buyutnya. Dia merasa senang sekali ketika batik buatannya mendapatkan apresiasi dan laku dijual.

“Batik saya waktu itu dibayar dengan uang sen warna merah, berlubang dua, dan bergambar padi,” ujar Mbah Warni yang belum paham nilai mata uang saat itu. “Dulu uang berlobang tengah warna putih bisa buat beli tiga permen gambar ikan wader,” sambung Mbah Warni membandingkan nilai dua uang logam yang berlaku saat itu.

Dalam sebulan, Mbah Warni bisa menyelesaikan dua pesanan batik. Sekalipun batik buatannya bagus, dia tidak mematok harga tinggi. Nilai 200 ribu hingga 350 ribu menjadi harga tawar yang sering diberikan kepada pelanggannya. Harga tersebut masih pendapatan kotor. Kalau lagi sepi pesanan, Mbah Warni biasanya membuat batik lantas dijualnya sendiri.

“Itu masih dikurangi biaya arang, malam, canting, dan sebagainya,” ujar Mbah Warni sambil membatik pada sebuah kain bermotif Sidopeni yang diambilnya dari kamar.

Kadangkala Mbah Warni mengeluh tekor karena tiba-tiba harga perlengkapan dan biaya operasional membatik naik. Sedangkan, nilai pesanan yang disepakati dengan pemesan ternyata kurang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

”Sekarang harga malam Rp 1.750. Arang juga naik dari Rp 2.000 jadi Rp 3.000. Saya mumet kalau sudah begini. Itu masih harus bayar untuk mbabar dan sebagainya.” ujar Mbah Warni dengan raut muka sedih sembari mengernyitkan dahi.

Sekalipun dapur Mbah Warni tak tentu “asapnya”, dia enggan bergabung menjadi karyawan produsen batik lain. Pedoman hidup Mbah Warni dalam mengais rezeki cukup mengesankan.

“Saya tidak mau jongkok dan memohon diterima bekerja untuk mbatik di tempat orang lain. Itu akan menjatuhkan harga diri saya. Lebih baik saya berwiraswasta semampu saya. Kalau mereka (produsen batik –red) mau pesan batik di tempat saya, silahkan!” ujar Mbah Warni tegas dan bersemangat. “Pikiran saya lebih enak kalau berwiraswasta.” lanjutnya.

Comments
4 Comments

4 orang bicara:

Sang Cerpenis bercerita said...

seharusnya ada suatu lembaga yg memerhatikan para pembatik kecil spt mbah Warni ya

btw, kalo ke Laweyan lagi nitip batik dong.

masiqbal said...

nice post, banyak pelajaran yang saya dapat dari tulisan ini...

budiawanhutasoit said...

hebat..salut sama pola pikir Mbah Warni ini...
semangat pantang menyerahnya patut diteladani..

putri solo said...

Di kampung batik Laweyan wanita tua seusia Mbah Warni ini banyak. Mereka bekerja membatik, menolet, melipat kain batik, melorot dan mencap kain batik.
Saya sendiri dan temen sepermainan di kampung Klasseman dulu juga bekerja memburuh batik, Orang tua, kakek, nenek pihak bapak ibu saya semua bekerja sebagai buruh batik, upahnya tak seberapa tetapi cukup untuk makan 3x sehari. Itu terjadi di era 1964 s/d 1976.
Saya kira sampeyan belum lahir ya Mas?