Home » , , , , , » Menghadapi Bos Perfeksionis

Menghadapi Bos Perfeksionis

Setiap karyawan pasti berharap memiliki pemimpin yang ideal. Atau setidaknya, mempunyai karakter yang mendekati pemimpin idaman. Secara psikologis, karyawan akan lebih senang bekerja untuk pemimpin yang memenuhi nilai-nilai subjektif tertentu, yang sesuai dengan keinginan mereka.

Namun, pada kenyataannya, karyawan seringkali tidak bisa memilih bos mereka. Beruntunglah karyawan yang mendapatkan bos berkriteria “baik”. Tapi, memiliki bos yang dikategorikan “buruk”, juga bukan berarti akhir dari segalanya.

Apakah Anda merasa tertekan dengan sikap bos yang selalu mengkritik hasil kerja Anda? Mungkin, maksud bos Anda baik. Dia memperhatikan setiap detail dan ingin hasil kerja Anda sempurna. Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Misalnya, saat deadline mendesak, tiba-tiba atasan Anda masih melakukan revisi. Bahkan, dia ingin merombak total pekerjaan yang sudah dikerjakan begitu lama. Memusingkan, bukan? Belum lagi, masih ditambah kritikan pedas yang cukup membuat panas telinga. Selain itu, Anda tidak leluasa bekerja karena selalu dipantau oleh sang bos yang menyimpan keraguan akan kemampuan Anda dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.

Seorang yang perfeksionis ingin mengerjakan semuanya dengan sempurna. Dan, standar itu tidak hanya diterapkan pada dirinya, melainkan juga kepada orang lain. Jadi, ketika sesuatu tidak sempurna, maka sikapnya jadi negatif. Bahkan, jika suatu pekerjaan masih mendekati sempurna pun baginya tidak cukup.

Akibatnya, menutup peluang para staf dan pendukungnya untuk berkembang. Ketika bantuan staf benar-benar diperlukan, mereka tidak siap karena tidak pernah diberi kesempatan berlatih menerima tanggung jawab.

Sikap yang sering ditunjukkan seorang perfeksionis sebagai berikut:
•Sangat berkomitmen, bahkan sering berlebihan dan bisa mencapai terobsesi.
•Tidak suka mendelegasikan tugas bagi orang lain, atau kurang percaya pada kemampuan orang lain.
•Memiliki kesulitan untuk menghitung prioritas dengan sehat.
•Memiliki dorongan yang sangat besar untuk mengendalikan segala sesuatu.
•Berkompetisi dengan kuat, terdorong untuk menang dalam banyak hal, bahkan untuk hal-hal yang tidak berarti sekalipun.
•Memiliki standar yang sangat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis.
•Sulit untuk fleksibel, cenderung kaku, dan menuntut orang lain dengan menggunakan standar yang tinggi.

Anda mungkin pernah merasa menjadi karyawan yang berhasil mencatatkan kinerja sempurna, mencapai target tinggi, namun tidak dinilai bagus oleh atasan. Atasan Anda ini mungkin termasuk kategori perfeksionis. Mereka beranggapan bahwa kinerja sempurna masih dapat dicapai, sehingga ia masih merasa tidak puas.

Masalahnya, mereka yang bertipe perfeksionis ini berpotensi mengakibatkan orang lain jadi tertekan untuk mengikuti standar sempurnanya. Oleh karena itu, Anda tidak perlu mengambil serius kata-katanya. Yang penting, Anda berhasil mencapai kinerja yang baik sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan, meskipun tidak sempurna.

Lelah dengan segala kritikan dan lantas menyerah. bukanlah solusi pintar untuk karir Anda. Memutuskan untuk pindah kerja karena satu masalah ini justru bisa membuat curriculum vitae (CV) Anda “cacat”. Periode kerja yang terlalu singkat seringkali membuat calon employer meragukan kompetensi Anda. Jika Anda tahu triknya, bekerja untuk bos yang perfeksionis malah bisa memberikan pengalaman dan keterampilan tersendiri.

Orang yang perfeksionis biasanya memiliki standar sendiri bagaimana pekerjaan harus dilakukan. Usahakan Anda mengerti kebiasaan dan parameter kerja sempurna si bos terhadap setiap jenis pekerjaan. Perhatikan dengan seksama arahan dan petunjuknya, buat catatan sebagai panduan. Jangan ragu bertanya agar Anda mendapat gambaran sejelas-jelasnya sehingga dapat memenuhi ekspektasinya.

Bos Anda tidak akan melewatkan kesalahan sekecil apapun. Cobalah berpikir seperti seorang perfeksionis. Dan, cari kelemahan atau poin yang rawan kritikan dalam pekerjaan Anda. Mengkritisi diri sendiri sangat dibutuhkan untuk meminimalisasi kesalahan.

Memiliki bos yang perfeksionis membuat Anda benar-benar harus perhatian terhadap detil. Hindari kesalahan remeh seperti salah ketik, ketidakrapian, informasi yang tidak akurat, dan sebagainya, yang akan memicu masalah lebih besar nantinya. Jangan lupa lakukan check and recheck untuk setiap pekerjaan, sebelum Anda menyerahkannya untuk direview.

Jika mengikuti emosi, bertahan dengan bos yang selalu menuntut memang terasa melelahkan dan menjengkelkan. Namun, sebaiknya Anda tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Malah, anggap saja kritikan tersebut sebagai cambukan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Lihatlah setiap kritikan sebagai cara belajar untuk jadi karyawan yang lebih baik.

Jangan tunggu si bos mencari-cari kesalahan Anda. Sebisa mungkin berikan informasi sebanyak-banyaknya sebelum diminta atau ditanyakan. Hal ini sekaligus dapat memberi kesan Anda mampu dan antusias mengerjakan pekerjaan tersebut. Sehingga, bos Anda akhirnya percaya pada Anda.

Kompromi dan menyesuaikan diri dengan sikap bos yang perfeksionis bukan berarti Anda harus menuruti keputusannya secara buta. Jika berulangkali sikapnya tidak konsisten, mulai menjurus kepada ambisi pribadi, dan sudah mengganggu ritme kerja lainnya, maka inilah saatnya Anda mengatakan bahwa revisi dan rombak sudah harus dihentikan. Kemukakan alasan yang logis dan masuk akal. Dan, sampaikanlah dengan sopan.

Bagaimana bila tugas telah selesai dikerjakan, namun dia mengotot ingin melakukan sejumlah perbaikan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hingga malam sebelum deadline? Sah-sah saja bila Anda membiarkannya memuaskan obsesinya seorang diri. Selama tuntutan pekerjaan sudah dipenuhi, tidak ada alasan untuk ikut mencurahkan waktu dan tenaga terlampau banyak untuk satu tugas. Ingat, Anda masih punya tugas lain yang menanti esok hari.

Michael S. Dobson, penulis buku Working with Difficult People, menyatakan, kunci menghadapi si perfeksionis adalah melancarkan jalur komunikasi Anda dengannya. Ketika menerima pembagian tugas kerja, ambil waktu untuk memperjelas ekspektasi dari masing-masing pihak. Jika atasan ingin Anda melakukan sesuatu dengan cara tertentu, mintalah dia menuliskan langkahnya secara step by step di atas kertas, hingga Anda benar-benar mengerti apa yang ia maksudkan. Bukan yang terkuat akan bertahan, namun yang paling mampu menyesuaikanlah yang akan sukses.

Comments
10 Comments

10 orang bicara:

Alfaro Lamablawa said...

PERTAMAXXXXX
hehehe
great posting
nice to read

Indra Mahardika said...

Wah, bagus 2x. BIsa saya coba. Kebetulan bos saya juga seorang perfeksionis

masiqbal said...

tipsnya ces pleng banget nih mas ilham, bosku yo gaplek, perfeksionis...praktekin ah...

Dennis said...

wah.. trims d... boleh disimpan ni tuk modal..

gusmel riyadh said...

sementara ini saya nrut sama blog dulu,,, belum punya modal buat nyaingin perusahaannya.. :)

Tongkonan said...

Bos saya adalah kedua orang tua saya. :) *dasar pengangguran*

Gugun Design said...

Maaf, postingan Anda kami blokir!! Hehe, itu teorinya mas Ilham..lha praktekke piye hayo? wkwkwk..

Anonymous said...

Bos Gw banget nih :mad:

Thank

bisnis online

Sewa Bus Jogja said...

mantap ........s

Sindhu said...

Hmm...boleh dicoba nih triknya.
Semoga bisa meluluhkan hati bos. Hehehe... :D