Home » , , , , , » Makin Laku Gara-Gara Telur Busuk

Makin Laku Gara-Gara Telur Busuk

Barangkali hanya sedikit orang yang mau melepas kemapanan hidupnya untuk mengejar cita-cita menjadi entrepreneur. Adalah Bob Sadino salah satu pelakunya. Sebelum usahanya menjadi besar dan tenar seperti saat ini, proses panjang dilaluinya dengan berjuang dalam keprihatinan. Padahal, dia awalnya pernah bekerja menjadi karyawan PT Unilever(1954-1955). Selanjutnya, menjadi karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg (1950-1967).

Ketika 9 tahun dihabiskannya bekerja di Belanda dan Hamburg, sejak 1958, Bob merasa sangat rindu dengan tanah airnya. Dia pun memantapkan diri untuk kembali ke Indonesia. Bahkan, Bob bersedia hidup serba kekurangan dengan istrinya sekembalinya mereka. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Bob ternyata jenuh jika harus bekerja di bawah tekanan orang lain. Bob pengen jadi bos. Dia lebih suka “menjadi kepala ikan teri daripada sebatas buntut ikan paus.” Karena itu, dia bertekad harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan 1960-an. Satu dijualnya untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan, yang saat itu masih terhampar sawah dan kebun.

Tekad hidup mandiri mengantarkan Bob menjadi sopir taksi dengan memakai mobil sendiri yang belum dijualnya. Dasar lagi apes, mobil itu tabrakan dan hancur waktu disewakan. Hilang sudah kendaraannya untuk mencari sesuap nasi. Kesulitan hidup itu membuatnya menerima “profesi” baru sebagai tukang bangunan. Gajinya pun hanya Rp 100 per hari, kala itu. Depresi, sempat mewarnai hidup keluarga Bob.

Istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, sebenarnya bisa menyelamatkan keadaan dengan bekerja. Tetapi, Bob bersikeras. ''Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah,'' ujar lelaki kelahiran Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933.

Suatu hari, teman Bob menyarankan memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob lantas tertarik. Bisnis rumahannya pun dimulai. Ketika beternak ayam itu, muncul inspirasi untuk berwirausaha. Tidak jarang, Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. “Ayam saja bisa berjuang untuk hidup. Tentu manusia pun juga bisa,” kata pemilik nama lengkap Bambang Mustari Sadino ini.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, dia dan istrinya memiliki banyak pelangganan, terutama orang asing. Karena pernah tinggal dan bersosialisasi dengan orang mancanegara, mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya menetap di kawasan Kemang, Jakarta, yang banyak dihuni pula oleh orang asing.

Saat berkeliling menjual telur ayam, Bob sering mengatakan, ”Kalau telur saya busuk satu, saya akan ganti satu kilo.” Inilah jaminan Bob terhadap produk yang dijualnya.
Tapi, gara-gara slogan ini, muncul ide gilanya. Suatu hari Bob sengaja memasukkan satu butir telur dalam dagangannya. Telur busuk itu dimasukkan ke dalam pembelian seorang ibu yang cukup cerewet.

Keesokan hari, ibu itu marah dan minta ganti rugi ke Bob. Sesuai garansinya, maka telur tersebut langsung ditukar dengan satu kilogram telur dalam kondisi bagus. Wow, memang gila cara Bob bertransaksi.

Jangan salah sangka. Justru karena idenya ini, Bob dengan cepat menjadi terkenal di daerah si ibu cerewet itu. Gara-garanya, ibu tadi bercerita kepada tiap orang yang ditemuinya. ”Enak beli telur di Pak Bob. Dijamin, jika busuk satu ditukar sekilo,” kata si ibu cerewet. Langsung deh, laris manis telur Bob.

Apakah Bob memakai ilmu teori khusus untuk memajukan bisnis rumahannya ini? Sama sekali tidak. “Kalau Anda masih mengandalkan pemikiran hasil kuliahan, bakalan susah memahami pemikiran saya. Makanya, sebelum ngobrol bareng saya, tolong otak Anda dipindah ke dengkul dahulu, biar nyambung dengan saya,” tuturnya. Waduh, bingung, kan?!

Bob memang dikenal sebagai pengusaha “gila” yang sering menentang arus dari ilmu bisnis yang sering digelontorkan melalui teori-teori akademik maupun dunia perbukuan. "Saya selalu menganalogikan bisnis itu seperti sungai yang penuh kebebasan, tanpa perencanaan. Bahkan, tanpa arah tujuan yang hendak dicapai," kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu,” kata pria yang khas dengan celana pendeknya itu.

Sikapnya ini mengantarkan Bob menuju kesuksesan. Perkembangan usahanya tumbuh pesat. Kini, Bob menjadi pemilik tunggal swalayan Kem Chicks. Setelah swalayan Bob berkembang, dia merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura. Di situ, Bob mengelola kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu, dia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Sekalipun sudah sukses, Bob tidak lantas merendahkan orang lain. Sikap ini ditanamnya sejak merintis usaha. Tidak jarang Bob dimaki pelanggan telurnya kala itu. Bahkan, pernah dimaki babu orang asing. Namun, mereka mengaca pada diri sendiri dan segera memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, yang semula pribadi feodal menjadi orang yang mau melayani.

Baginya, sukses itu proses. Buat seorang entrepreneur seperti Bob, setiap detik dia siap menerima kegagalan. “Kalau orang lain menolak kegagalan, saya menerima semua kegagalan,” ujarnya. “Setiap detik saya menerima kegagalan. Kata orang pinter, orang sukses itu adalah orang yang bangkit lagi setiap mendapatkan kegagalan. Itulah orang sukses,” lanjut Bob.

Keberhasilan Bob tidak lepas dari ketidaktahuannya. Sehingga, dia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob justru menjadi terampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, yang mestinya dimulai dari ilmu kemudian barulah berpraktik. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu akan berpikir dan bertindak serba canggih. Orang itu akan cenderung arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan, Bob senantiasa luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran, dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu, Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu, dia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan. Bob tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang ini tidak ada habis-habisnya. Karena itu, dia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Pesan Bob Sadino, langkah-langkah menjadi entrepreneur yang sukses dibangun dengan kemauan yang keras, tekad yang kuat, berani mengambil keputusan yang tepat, tahan banting, dan tidak cengeng menghadapi cobaan. Terakhir,
yang paling penting, adalah bersyukur dan ikhlas selalu kepada Allah.


Comments
0 Comments

0 orang bicara: