Home » , , » Masakan Ndeso Kini Makin Digemari

Masakan Ndeso Kini Makin Digemari


-->

-->
Menu masakan katrok (pinjam istilah Tukul) atau ndeso, kini tidak bisa dipandang remeh. Menu yang mencirikan masakan tradisional ini, banyak dijadikan ladang bisnis menggiurkan.

Rumah Makan (RM) Masja , misalnya, mulai membuka usaha rumah makan masakan Jawa sejak 1987. Pemiliknya bernama Karsini, perempuan paruh baya, yang mengawali usaha berdua bersama suami.
“Awalnya saya merintis pada tahun 1975. Waktu itu saya melayani para pekerja bangunan di depan kantor polisi Laweyan (Solo –red). Sampai 1980 saya melayani pekerja bangunan. Pada 1981, saya mulai melayani polisi dan tentara. Akhirnya saya membuka warung makan ini pada 1987,” ujar Karsini yang membuka usaha di jalan Dr. Radjiman, Solo.
Menu yang disajikan pun cukup beragam. Konsumen bisa menikmati aneka sayur dan lauk khas Jawa. “Ada lodeh, sop, asem-asem, oseng-oseng kikil, dan sebagainya. Banyak menu Jawa yang saya tawarkan. Tapi menu yang paling banyak terjual atau menjadi favorit adalah brongkos,” tutur Karsini mengenalkan masakannya.

Brongkos menjadi menu andalan di RM Masja. Isinya berupa daging sapi yang dimasak dengan tampilan berkuah kecoklatan. Sekilas akan tampak seperti tongseng kambing. Rahasia bumbu apa yang ada di dalamnya? “Itu rahasia perusahaan. Ini yang membedakan kami dengan yang lain,” jawab ibu dua orang anak itu.

Pelanggan Karsini memayungi banyak kalangan. Kalangan menengah ke bawah hingga atas, banyak yang mengunjungi rumah makannya. Pasalnya, Karsini mentapkan harga masakan yang bisa dijangkau siapapun. 
“Pada waktu itu (pertama buka –red), pelanggan saya kebanyakan sales. Seiring perjalanan usaha, konsumen saya akhirnya banyak orang yang berdasi,” ujar Karsini bangga.
Kini Karsini memiliki satu cabang yang terletak di jalan Letjen Suprapto 37 Solo. Karyawannya mencapai 22 orang untuk dua tempat yang dimiliki. Dari mulai buka pukul 6 pagi hingga 5 sore, Karsini mengaku, rumah makannya bisa dikunjungi minimal 400 orang. “Keuntungan per hari bisa satu sampai dua juta rupiah,” ujar Karsini yang mengeluarkan modal minimal dua juta rupiah untuk kulakan bahan.

Sekalipun saat ini kompetitor rumah makan sejenis mulai marak, Karsini tetap percaya diri usahanya punya rezekinya sendiri. Dia tidak khawatir menghadapi gempuran persaingan.
“Saya orangnya fair. Saya punya prinsip begini; kepintaran dan ilmu itu bisa ditiru (dipelajari –red). Tapi rezeki itu datangnya dari Allah. Walaupun banyak pesaing di sekitar saya, monggolah. Yang penting saya harus bekerja dengan baik,” pungkas Karsini optimis. (LiputanOne)

Comments
3 Comments

3 orang bicara:

suwung said...

lha malah yang katrok yang enak

arie yanie said...

wah.klo saya mah mang suka masakan tradisional aliaz katrok,karna :
1. lebih higienis
2. lebih wuenak
3. bumbu yg alami

thanx yah :)

budi said...

ajiebbbbbbbbbbbbbbbbb

makasih yah maz,jadi laper nih.