Home » , , , , » Memanfaatkan Keunggulan Lokasi

Memanfaatkan Keunggulan Lokasi

Gejolak ekonomi akhir-akhir ini memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia harus pintar memilih dan memilah kebutuhan hidup. Atau dengan kata lain tahu mana yang prioritas, mana yang bisa ditunda. Alhasil, beberapa kegemaran pun terpaksa dihentikan dulu. Misal hobi memelihara ikan hias. Maklum, ikan hias bisa dibilang kebutuhan tersier, yang tidak harus dipenuhi.


Praktis, turunnya minat memelihara ikan hias turut mempengaruhi pasaran ikan hias. Tak jarang ada pengusaha yang harus banting stir ke usaha lain setelah ikan hias tak lagi menjanjikan. Bagi yang ingin bertahan, strategi dan kiat-kiat jitu diperlukan agar tak merugi, apalagi gulung tikar.


Hanya saja, pendapat umum pasaran ikan hias sedang suram dibantah Wahono, Manager Pro Shop “She Look Red.” Menurutnya, Solo masih berpotensi untuk pasaran ikan hias mengingat banyak kolektor yang memiliki daya beli bagus. Dia melihat sudah mulai banyak kolektor yang mencoba membeli ikan arwana sebagai koleksinya

.

Kebanyakan mereka meyakini arwana bisa mendatangkan rezeki dan menolak bala. Jadi kalau ada keluarga yang kena musibah, yang mati adalah arwananya. “Jadi keluarga terbebas dari ancaman musibah jika memelihara arwana. Begitu kepercayaan yang ada tentang arwana,” jelas Wahono tentang alasan sebagian besar pembelinya memilih arwana.


Wahono menjual berbagai ukuran arwana, dari 15-17 cm yang dihargai Rp 5 juta hingga yang 20-25 cm yang dibanderol Rp 6,5 juta. “Ada juga ukuran yang lebih besar, harganya sekitar Rp 15 juta-Rp 20 juta,” katanya yang hanya menjual jenis super red. Dalam sebulan, tokonya rata-rata mampu menjual 10 ekor arwana ukuran kecil. Seluruh arwana kiriman dari Jakarta dengan pembibitan di Pontianak.


Meski menganggap pasaran arwana relatif stabil, dia tetap menerapkan jurus khusus untuk bersaing dengan toko sejenis. “Kami mengkhususkan menjual arwana super red. Setiap arwana super red di tempat kami dipasangi semacam identitas khusus yang ditanam di dalam tubuh ikan agar ikan mudah dikenali seumpama hilang atau dicuri,” ujarnya. Media promosi pun juga dilirik. Untuk lokal, Wahono menggunakan brosur dan iklan di media setempat. Namun, “Kami juga dibantu pemasok dari Jakarta untuk iklan skala nasional,” tuturnya. Dia sendiri menyebut promosi arwana malah lebih gencar di Malaysia dan Singapura. “Padahal arwana asli Indonesia,” tambahnya.


Strategi lain penjual ikan hias adalah dengan bersama-sama membentuk kelompok penjualan sesama ikan hias yang berdekatan. Seperti yang terlihat di Pasar Gedhe Solo. Ada los khusus sebagai sentra pembelian ikan hias. Sehingga pembeli pun tak perlu repot untuk mencari barang yang sesuai keinginan dan kantong. “Memang kalau bareng-bareng kayak gini keuntungannya sudah dikenal sebagai sentra ikan hias. Meski juga harus bersaing dengan toko lainnya,” jelas Asih, salah satu penjual ikan hias di Pasar Gedhe.


Dia mengatakan dari berbagai jenis ikan yang dijual; arwana, koi, dan ikan kecil-kecil, yang paling laku arwana. “Saya menjual arwana silver Brasil Rp 150 ribu. Kalau yang kecil-kecil antara Rp 5.000 hingga Rp 35 ribu,” tuturnya. Asih juga merasa tidak memerlukan media promosi apapun. Biar bagaimanapun, menurutnya, sudah banyak yang tahu jika sentra ikan hias di Solo ada di Pasar Gedhe.


Ria, karyawan Solo Akuarium yang berlokasi di lantai 2 sentra ikan hias Pasar Gedhe menuturkan untuk menarik pembeli, dia mengunggulkan proses karantina yang dijalani ikan hias di tokonya sebelum dilepas ke pasaran. “Sehingga ikan yang dijual benar-benar dalam keadaan sehat. Di sini jarang ada ikan yang mati. Paling cuma beberapa saja,” klaimnya.


Dia menjual berbagai jenis ikan air tawar dan air laut yang semuanya untuk ditempatkan di akuarium. Untuk yang paling laku, ikan arwana dan koi masih terdepan. Arwana silver Brasil yang kecil sekitar Rp 100 ribuan. “Kalau super red untuk yang kecil saja bisa jutaan rupiah. Kalau ikan koi harganya bervariasi mulai dari Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, bahkan 35 ribu. Tergantung besar kecilnya juga,” terangnya.


Dalam sehari, Solo Akuarium mampu menjual tujuh ekor arwana kategori biasa. Untuk super red, Ria tidak bisa memastikan. “Yang jelas keberadaan Pasar Gedhe memberi keuntungan tersendiri. Sekalipun mungkin banyak penjual di luar sana, tidak terlalu mempengaruji penjualan di tempat kami. Barangkali konsumen tahu kalau Pasar Gedhe jadi tempat rujukan, jadi banyak dari mereka yang memilih ke sini,” katanya.

Comments
0 Comments

0 orang bicara: