Home » , , , , , » Sesama Pebisnis Fotografi Jangan Gontok-Gontokkan

Sesama Pebisnis Fotografi Jangan Gontok-Gontokkan

Persaingan antar kompetitor sesuatu yang lumrah. Namun bila antar kompetitor saling bekerjasama mungkin menjadi sesuatu yang aneh. Justru prinsip ini yang seharusnya diterapkan antara pebisnis studio foto digital.

“Keuntungannya besar. Bila suatu saat ada order lebih dan tidak bisa ditangani sendiri, maka bisa menggandeng studio lain untuk membantu menghandel,” ujar M. Yoserizal, pemilik dan fotografer Yosh Digital Photography, Solo.

Kerjasama antar studio ini juga menjadi indikator bangkit tidaknya dunia fotografi di suatu wilayah. Bila antar fotografer saling curiga dan menganggap sebagai musuh, maka perkembangan fotografi akan berjalan di tempat.

“Hidup matinya fotografi juga di tangan fotografer sendiri. Kalau mereka menganggap pelaku bisnis fotografi ini sebagai musuh, maka yang rugi sebenarnya dia sendiri,” kata Yosh, sapaan Yoserizal.

Tantangan bisnis studio makin besar seiring berkembangnya hape kamera. Sekarang ini kamera hape sudah menyentuh hingga resolusi 8 piksel, sekalipun kualitasnya belum sebagus kamera profesional. Orang menjadi lebih suka memotret memakai kamera sendiri bila dibandingkan datang ke studio

Ada penelitian yang menemukan kecenderungan orang meninggalkan studio foto karena keberadaan hape berkamera. Setidaknya minat orang untuk menggunakan studio foto berkurang 50 persen,” kata Yosh.

Kerjasama antara pelaku bisnis studio digital menjadi salah satu jalan mempertahankan pasar. Dengan menganggap kompetitor lain sebagai mitra akan menguntungkan kedua belah pihak.

“Di Jakarta, kerjasama semacam ini sudah biasa,” ujar Yosh.

Comments
2 Comments

2 orang bicara:

afie said...

sinergi lebih baik daripada saling sikut...

attayaya said...

sesama bis kota dilarang saling mendahului