Lazada Indonesia

Promosi Bimbel Cukup Rp 20 Ribu Saja

Menularkan ilmu, selain berpotensi sebagai amalan jariyah, juga bisa dijadikan jalan memperoleh pendapatan. Muhammad Yunianto, misalnya, melihat banyak siswa sekolah di daerahnya membutuhkan tempat belajar tambahan, maka diberanikannya membuat lembaga bimbingan belajar.

Di kediamannya, lembaga bimbingan belajar terdekat ditempuh dengan jarak kurang lebih 10 kilometer. Tepatnya, siswa harus menuju ke daerah Gemolong, Sragen. Sementara di daearah Ketitang, Nogosari, Boyolali –yang menjadi lokasi tempat tinggal Yunianto—belum ada sama sekali lembaga sejenis. “Yang lumayan ramai adalah les privat. Jadi guru yang mengajar les belum punya wadah tersendiri. Dari situlah, saya melihat ada peluang untuk membuka lembaga bimbingan belajar,” kata Yuni, panggilan Muhammad Yunianto.

Keberaniannya membuka usaha ini tidak lepas dari dasar pendidikannya yang seorang alumni jurusan MIPA Kimia dari Universitas Sebelas Maret, Solo, angkatan 2007. Istrinya juga lulusan FKIP Fisika. Jadi, mereka merasa ada panggilan hati untuk meneruskan ilmunya kepada para siswa yang membutuhkan.

Awal 2007, lembaga bimbingan belajar yang diberi nama Ulinnuha pun berdiri. Yuni memanfaatkan ruang tamu di rumahnya sebagai tempat belajar. Untungnya, kursi dan meja untuk belajar sudah ada. Sehingga, bisa lebih menghemat pengeluaran.


Baca juga: 3 Cara Promosi Bimbingan Belajar Privat agar Cepat Dipercaya Konsumen

Yuni memang sengaja menaruh lembaganya satu atap dengan kediamannya. Baginya, lokasi itu cukup strategis. Alasannya, tidak terlalu jauh dari jalan besar utama. Suasana pun tidak terlalu bising dan bisa mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Selain itu, rumah Yuni juga tidak terlalu jauh dengan kompleks sekolah yang tersebar di sana.

Untuk promosi, Yuni hanya perlu uang sekitar Rp 20 ribu. Percayakah Anda? “Saya gunakan Rp 10 ribu untuk mencetak surat diskon les yang dikirim ke sekolah-sekolah. Sisanya, untuk keperluan transportasi,” tutur Yuni.

Memang, untuk promosi awal, Yuni tidak “heboh” dengan mencetak brosur yang disebar di pinggir jalan. “Cara itu sangat tidak efektif,” katanya. Namun, dia menyurati sekitar 10 sekolah yang ada di sekitarnya untuk diberikan surat. Surat itu berisi diskon biaya pendidikan jika ikut program bimbingan belajar di tempatnya. Dan, tiap sekolah diberi lima surat diskon yang diperuntukkan bagi siswa dengan ranking 1-5 di kelasnya.

Dan, cara ini pun sangat jitu. Beberapa orang tua siswa yang anaknya pandai, menanggapi positif surat diskon tersebut. Dimasukkannya sang anak, untuk belajar di tempat Yuni. Melihat anak-anak yang pandai mengikuti bimbingan belajar, ternyata, membuat iri teman mereka lainnya. Maka, siswa lain pun terpacu untuk ikut les di tempat yang sama. Akhirnya, di tahun 2007, Yuni mendapatkan siswa 21 orang. Rinciannya, 6 orang ikut program privat, sisanya program reguler.

Ada tiga program yang dibuka Yuni, yaitu privat, reguler, dan bimbingan belajar eksternal. Biaya pendaftaran gratis Untuk privat, kegiatan belajar dilakukan selama 1,5 jam tiap pertemuan dengan jumlah siswa maksimal lima orang. Biaya program antara Rp 8 ribu – Rp 15 ribu per siswa, per pertemuan. Pengenaan harga tergantung jumlah siswa yang ikut. Semakin mendekati lima siswa, tarif per siswa semakin murah.

Program reguler dilaksanakan selama satu jam. Seminggu diadakan tiga kali. Biayanya dipungut sekali di awal pendaftaran. Biaya program yang dilakukan selama satu semester ini senilai Rp 350 ribu per siswa. Siswa akan mendapatkan jaket, modul, dan fasilitas lainnya. Satu kelas maksimal 20 siswa.

Sedangkan, program belajar eksternal ditawarkan kepada sekolah yang ingin para siswanya diikutkan pelajaran tambahan. Jadi, penanggung jawab siswa adalah sekolahnya. Biayanya, per jam hanya 25 ribu per pertemuan. Tidak ada batasan jumlah siswa yang ikut. “Hanya saja tahun ini tidak bisa terselenggara karena masih minimnya jumlah SDM yang ada,” kata Yuni.

Modal yang dipakai Yuni sekitar Rp 4 juta. Modal itu dipakainya untuk membuat jaket sebesar Rp 2 juta, pengadaan modul sebesar Rp 1 juta, dan sisanya sebagai biaya operasional. Pengajarnya sampai saat ini 8 orang yang semuanya lulusan S1. Tiap pengajar tidak diperbolehkan mengajar mata pelajaran yangtidak sesuai kapasitasnya. Ini untuk menyiasati agar konsumen merasa puas.

Para pengajar dibayar sesuai dengan program yang ditanganinya. Untuk program privat, honor pengajar antara Rp 12.500 – Rp 15 ribu tiap pertemuan. Untuk program reguler, honor pengajar antara Rp 17.500 – Rp 20 ribu.

Yuni membidik siswa mulai SD sampai SMA. Untuk program reguler, diperuntukkan bagi siswa SD dan SMP. Untuk privat, dikhusukan bagi siswa SMA. Hanya saja, untuk program reguler, masih didominasi siswa SD. “Kelihatannya, pihak sekolah di sekitar tempat saya masih trauma dengan adanya lembaga bimbingan belajar yang hanya sekedar mencari uang semata. Mereka (bimbingan belajar –red) menyelenggarakan try out, tetapi bobot soalnya hanya itu-itu saja,” ujar lelaki kelahiran 25 Juni 1983 ini.

Yuni mengaku, untuk bisa impas dalam program reguler, diperlukan siswa sebanyak 10 orang. Dengan 10 siswa, seluruh biaya operasional sepanjang satu semester bisa tercukupi. Lebihnya dari 10 siswa yang ikut program reguler, maka biaya yang dibayar siswa menjadi keuntungannya.

Maka, Yuni pun menjanjikan siswa dengan cashback guarantee bila mereka ada yang tidak lulus atau tidak naik kelas. Jika ada satu atau dua siswa tidak naik kelas, itu bukan permasalahan baginya untuk mengembalikan dana pendidikan. Toh, sudah melewati titik impas. “Tidak ada orang tua yang ingin anaknya naik kelas. Kami juga punya komitmen untuk itu. Dengan adanya garansi ini akan jadi lebih membuat percaya konsumen kami,” katanya.

Prospek lembaga bimbingan belajar masih cukup bagus. Perhatian orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik buat anaknya, adalah alasan peluang dalam bisnis ini. Yang terpenting, utamakan aspek kepuasan pelanggan.

Yuni pernah mengalami titik kritis. Titik ini adalah kondisi ketika usaha mendapatkan permintaan yang besar, namun kemampuan terbatas. “Kami harus mengkomposisi gaji karyawan dan kemungkinan merekrut karyawan baru, untuk tetap bisa memberikan kepuasan pelanggan,” ujar lelaki yang hobi baca ini. “Jika titik kritis ini terlewati, manajemen harus tetap konsisten mempertahankan kepuasan konsumen agar tidak jatuh,” tambahnya.

Tidak ada kendala yang berarti bagi Yuni saat ini. Hanya saja, dia memang harus menyesuaikan perubahan manajerial dari yang sederhana ke manajemen yang lebih kompleks. Wajar saja, pertumbuhan usahanya ini cukup bagus. Pada 2009 ini, lembaganya menangani 22 siswa untuk program reguler dan sekitar 12 siswa untuk privat. Dan, untuk pemesan tempat di semester selanjutnya (2010), sudah mencapai lima siswa. Jumlah ini masih diperkirakan akan naik. Itu pun, Yuni belum melakukan promosi apapun.

Bagi Anda yang ingin terjun di bisnis ini, Yuni berpesan, gunakan cara berpromosi yang berbeda dengan yang sudah ada. “Dan, jangan mencampuradukkan keuangan pribadi dengan keuangan yang dipakai untuk bisnis,” pungkasnya

Box Unik Karya Ika dan Dwi

Suatu benda yang terbungkus rapi dan tampil beda, pasti sedap dipandang. Kado pernikahan, misalnya, akan terasa istimewa jika dibentuk dengan sentuhan unik, kendati sekarang ini kado amplop dianggap praktis dan lebih sesuai dengan kebutuhan pengantin baru.

Adalah Ika Yuliarti beserta temannya, yang suatu hari mau menghadiri pernikahan sahabat mereka. Ika ingin memberi kado kenangan, dan tinggal mencari wadahnya. Dia pun jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. “Gila. Box kecil saja harganya sudah Rp 40 ribu,” ujar Ika, seperti tak percaya.

Maka, Ika pulang dengan tangan kosong. Ia putuskan sendiri membuat box kado sembari memanfaatkan imajinasinya. Tak berhenti di sini, Ika “keterusan” mengemas barang jadi sebuah bisnis. Bersama Nadia, Adit, “Breng”, dan Ono, bisnis box packaging digagas. Bisnis ini pun bergulir, melayani pesanan kecil-kecilan teman-teman.

Langkah Dwi Cahyono, 30 tahun, berbeda pula. Awalnya ia sempat bingung lantaran tempat kerjanya lagi surut. Dia pun keluar. Di tempat kerjanya itu, Dwi menangani bisnis box packaging di bagian finishing. Karena kepepet, Dwi memaksakan diri terjun di bisnis yang sama.

Terus terang Dwi buta soal cara memproduksi. Tapi, tekadnya yang kuat memaksa dia untuk belajar. Dwi maupun Ika dan kawan-kawan memulai bisnis ini sejak setahun lalu. Ternyata, bisnis ini cukup diminati konsumen. Perseorangan maupun perusahaan perlu layanan packaging.

Packaging adalah bisnis pengemasan barang. Setelah dikemas, sebuah tampilan barang punya nilai tambah. Unik dan menarik. Seseorang menggunakan jasa box packaging, biasa untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, pengemasan kado, membuat wadah sepatu, wadah tata rias, wadah aksesoris, dan sebagainya. Bisnis packaging biasanya bukan produk massal.

Jasa packaging dipakai untuk menambah nilai promosi. Dwi, misalnya, menerima order dari perusahaan rokok berkait packaging promosi. Dibuatlah kemasan promosi rokok yang ada korek apinya. Produk yang akan dilaunching juga acap memakai jasa packaging, dan jumlah ribuan pieces.

Bahan utama box packaging adalah kertas. Yaitu jenis kertas vensy dengan ketebalan tertentu. Ini kertas impor yang cukup mahal. Per meter sekitar Rp 12 ribu – Rp 120 ribu. Semakin mahal, kualitasnya makin bagus. “Maka, saat bernegosiasi dengan klien, harus dipastikan dulu jenis kertasnya,” ujar Dwi.

Kunci utama sebelum mengerjakan pesanan adalah menemukan pola box. Biasanya klien minta dibuatkan box berbentuk tertentu. Keinginan itu diterjemahkan dengan sebuah pola utama. Jika sudah oke, pengerjaan berikutnya lebih mudah. Penemuan pola akan terasa lebih mudah jika sudah terbiasa.

Bahan finishing tiap cover berbeda-beda, tergantung kesepakatan dengan klien. Bahan untuk finishing, biasanya, berubah sesuai mode pada eranya. Tahun 1999-2002, misalnya, saat bisnis ini booming di Jakarta, bahan finishing berkonsep natural, setelah sebelumnya banyak memakai cover daur ulang. Bahan-bahan alam pun dipakai.

“Saya dulu memanfaatkan gedebog pisang dan daun waru untuk finishing. Konsep natural kemudian tergeser oleh konsep cover kain, sejak 2002-2006. Dan, sejak 2006 sampai sekarang, masih didominasi finishing dengan bahan kain dan natural,” papar Dwi yang menawarkan karya-karyanya di kaki lima saat mengawali usaha. Ia memprediksi pemakaian bahan daur ulang sebagai cover akan kembali ngetren tapi dengan konsep yang lebih beda.

Soal promosi, Ika dan Dwi mengandalkan getok tular. Sekali pun demikian, keduanya juga aktif mengenalkan usaha lewat internet. Ika memajang hasil karya bersama teman-temannya melalui facebook dan blog. Intinya, agar konsumen setidaknya tahu eksistensi mereka.

Dwi yang memulai usaha di kaki lima, sempat pula menjajakan barang kerajinan, sebelum link usahanya terbentuk. Rencananya, Dwi ingin kerja sekaligus usaha. Tapi, ketidakfokusan itu membuat usahanya keteteran, sebab pesanan packaging makin banyak.
Apa boleh buat, Dwi keluar dari kerja. Ia fokus ke bisnis packaging dengan menggandeng dua rekannya. Setelah itu, promosi lebih banyak memanfaatkan dari mulut para konsumen yang puas atas hasil kerjanya.

Modal usaha ini tidak banyak. Yang penting, otak harus encer untuk menelorkan berbagai kreativitas merancang box kemasan. “Modal saya dan teman-teman waktu itu Rp 900 ribu, urunan bersama teman-teman,” ucap Ika.

Modal Dwi malah hanya Rp 200 ribu. Kini, bisnisnya sudah menghasilkan laba pemasukan minimal Rp 6 juta per bulan. Itu belum termasuk pesanan insidentil di luar klien loyal.

Jadi, soal modal, menurut Dwi, bukan penghalang untuk terjun di bisnis ini. Bahkan, modal itu, sebenarnya bisa didapat dari klien sendiri. Mereka biasanya memberikan uang down payment (DP) yang bisa dipakai sebagai modal kerja. Soal bahan mentah, tidak perlu dana besar lagi.

Artinya, peluang ini menjanjikan. Namun kualitas jangan sampai disepelekan. Bisnis ini sangat rentan terhadap komplain konsumen. Dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan tinggi. Jika kurang rapi, bisa-bisa konsumen menolak membayar dengan harga penuh.
Itulah yang dialami Ika. Dia harus menanggung risiko gara-gara ada box packagingnya yang tidak rapi. Kesepakatan awal, klien memesan 500 box dengan harga Rp 4 ribu per item. Setelah ada komplain, klien hanya mau membayar Rp 3.800 per box. Artinya, Rp 200 lebih murah dari kesepakatan.

“Tantangan bisnis box packaging memang ada pada tipe klien. Wajar bila klien tidak terima ketika hasil karya kita kurang memenuhi standar. Tapi, jika sudah ketemu klien bertipe perfeksionis, itu yang bikin kerjaan jadi tambah lama,” keluh Dwi.
Klien jenis ini seringkali melakukan perubahan mendadak, padahal box yang dibuat sebelumnya sudah sesuai kriteria pesanan. “Namanya juga klien, saya pun harus sabar mengikuti kemauannya,” imbuhnya.

Tidak ada patokan khusus soal harga box per item. Soalnya, tiap pesanan membawa konsekuensi tentang harga bahan, jenis bahan, detail, sampai finishing. Dan, tiap pesanan berbeda spesifikasi. Maka, komposisi harga jual pun negosiasi.
Dwi mengaku harga jual boxnya dua kali dari harga pokok produksi. Sedangkan Ika, enggan menyebutkan rumus harga jualnya. Ia hanya menyebut karyanya dijual mulai seribu sampai ratusan ribu rupiah.

Yang pasti, bisnis ini berpotensi jadi tumpuan hidup. Jika ditekuni, bisa pula menjadi sebuah usaha besar. “Kuncinya harus sabar, kreatif, produk yang berkualitas, dan selalu mengikuti perkembangan selera konsumen,” ujar Dwi.

Bisnis box packaging cukup ramai di Jakarta. Namun, di luar kota besar, masih jadi tantangan untuk dikembangkan. Anda berminat mencoba?
(Dimuat di Majalah Saudagar Edisi Oktober 2009)



Tarif Sewa Lapangan Futsal Beragam

Bisnis sewa tempat futsal, bukan barang baru lagi. Keberadaannya sudah menjamur. Animo masyarakat terhadap sepakbola mini ini makin kentara. Berbagai lapisan bisa menjangkau.

Futsal sebenarnya sudah dikenalkan sejak 1999 silam. Hanya saja mulai marak di Indonesia pada 2003 lalu. Apalagi dengan sulitnya mencari tempat lapang untuk main sepakbola sekarang ini, menyewa tempat futsal menjadi alternatifnya.

“Tahun lalu (2008 –red) di Solo belum begitu terdengar tentang futsal. Sepakbola tahunya ya seperti pada umumnya, main di lapangan besar,” ujar Steven Indrawan, B. Eng, pemilik dan manajer Coppa Futsal, Solo.

Futsal seperti halnya sepakbola umumnya. Hanya saja memiliki lapangan lebih sempit. Menurut standar internasional, ukuran lapangan futsal adalah 27 x 17,5 m. Bola yang dipakai memiliki diameter lebih kecil dan memiliki volume lebih berat. Sepatu pun sedikit beda, yaitu tanpa pull di telapak kaki.

“Saya sarankan selalu menggunakan sepatu untuk perlindungan kaki. Ini sebagai antisipasi jika ada kecelakaan kecil saat bermain,” ujar Steven.

Bermain futsal cukup 2 x 15 menit. Setiap team memiliki lima pemain dan dipimpin seorang wasit. Aturan main sama seperti bermain sepakbola biasa. Hanya saja ada sedikit modifikasi pada beberapa hal, misalnya bola keluar lapangan, bola tidak dilempar melainkan ditendang.

“Kalau untuk permainan yang di dalamnya saling kenal, biasanya jumlah pemain tergantung kesepakatan mereka sendiri,” kata Steven yang menginvestasikan hampir 2M untuk usahanya.

Mencari lapangan futsal pun sekarang bisa menyesuaikan selera. Fasilitas yang diberikan tiap tempat futsal berbeda. Ada yang berbahan cor semen sebagai alas lapangan dan ada pula yang menggunakan rumput sintesis. Dalam rumput sistesis, lapisan terbawah adalah pasir. Di tengah ditaruh karet dan paling atas baru diberi rumput sintesis, agar tidak sakit sewaktu jatuh.

“Coppa sendiri menggunakan rumput sintesis. Kami mendatangkan rumput ini dari Italia. Bahannya seperti yang dipakai oleh stadion milik AC Milan,” jelas Steven.
Perbedaan bahan lapangan ini yang menyebabkan perbedaan tarif sewa per jamnya.

Lapangan dengan bahan cor semen, di Solo, bisa dikenakan tarif 50 hingga 70 ribu. Sedangkan bila menggunakan rumput sintesis, per jam bertarif 75 hingga 150 ribu. Itu pun biasanya team membaginya berdasarkan jumlah pemain yang datang. Jatuhnya pasti lebih murah untuk tiap pemain. Jadi tinggal menyesuaikan saja dengan isi kantong.

Berbisnis di Usia Dini

Jalan menanamkan mental enterpreneurship bisa dimulai sejak dini. Seperti yang dilakukan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 6 Solo, kurikulum kewirausahaan diberikan kala siswa berada di kelas satu dan dua.

Bukan hanya teori, para siswa wajib menjalani aktivitas bisnis. Pihak sekolah bekerja sama dengan pengelola minimarket Smart, membuat sebuah toko yang sekaligus menjadi bisnis center dan laboratorium siswa.

“Siswa bisa kulakan di Smart dengan nilai pengambilan barang minimal 100 ribu tanpa modal. Jika dihitung dalam satu semester, diharapkan seorang siswa mampu meraih omset penjualan minimal 600 ribu,” ujar Drs. Yamto Mulyono, M.Pd, Wakasek Bidang Kurikulum SMK 6 Surakarta.

Kurikulum kewirausahaan ini berlangsung sejak awal 2008 bersamaan dengan munculnya bisnis center. Aktivitas bisnis para siswa selalu dimonitoring dan dibimbing wali kelasnya masing-masing. Tiap semester akan dievaluasi kinerja bisnisnya dan dilakukan penilaian yang didasarkan pada pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
Sebesar 3% dari omset yang didapatkan, akan diberikan kembali kepada siswa. Jadi selain bisa mendapatkan nilai edukatif, siswa juga memperoleh manfaat bisnis,” jelas Yamto.

Untuk menciptakan enterpreneur handal, awal 2009, SMK 6 membuat pilot project dengan menggandeng 20 siswa untuk membuat bisnis sendiri. Para siswa diberikan keluasan berbisnis sesuai dengan dengan minat mereka sendiri. Uang tunai 20 juta disiapkan sebagai modal bergulir yang masing-masing siswa mendapat satu juta rupiah. Dalam jangka satu tahun, siswa wajib mengembalikan seluruh modal yang dipinjamkan sekolah untuk dipergunakan kembali oleh para adik kelas mereka. Keuntungan dari bisnis ini sepenuhnya menjadi milik siswa.

“Mereka membuat proposal usaha dan bebas melakukan usaha apa saja sesuai dengan kemampuannya. Kami tidak membatasi jenis usaha yang harus dibuat. Usaha mereka juga tidak terikat dengan program Smart yang sudah ada sebelumnya,” kata Drs. Arif Suhardi, Koordinator Unit Produksi dan Bisnis Center SMK 6 Surakarta.

Sama seperti program sebelumnya, aktivitas bisnis ke-20 siswa dimonitor oleh pembimbing. Mereka juga akan diberikan motivasi dan arahan, agar bisa fokus dan berkembang. Setiap bulan, siswa membuat laporan perkembangan usahanya.

“Siswa dibekali dengan ilmu pembukuan, yang termasuk di dalamnya teknik membuat laporan,” ujar Arif.

Pencarian 20 siswa melalui proses seleksi yang ketat. Tidak sembarang siswa dipilih. Hanya siswa yang memiliki kompetensi baik dan bermental enterpreneur yang terpilih mengikuti pilot project ini.

“Program ini adalah proyek pemerintah melalui provinsi. Tujuannya untuk menumbuhkan semangat entrepreneur kepada siswa sejak dini,” jelas Arif.

Pasar Dadakan dalam Kereta Logawa

Tepat setengah enam pagi loko kereta Logawa menyuarakan peluitnya. Ulahnya itu menandakan kesiapan mengantar para penumpang yang naik di gerbong, menuju tempat yang dituju. Trayek Cilacap-Jawa Timur dilakoninya tiap hari. Sekalipun kondisi loko dan gerbong lusuh termakan usia, namun banyak orang menumpukan keuangan keluarga di angkutan darat tersebut.

Begitu kereta kelas ekonomi ini ngetem di stasiun Gombong, Kebumen, berbondong suasana gerbong menjadi layaknya pasar. Berbagai kegiatan bisnis berlangsung di situ. Persaingan bisnis pun cukup ketat mengingat jenis barang yang dijual nyaris sama.

Benar sekali bila Anda menebak jika penjaja makanan dan minuman yang mendominasi bisnis di gerbong kereta Logawa. Mereka menyediakan berbagai sajian makanan pengganjal perut. Menunya antara lain nasi pecel, ayam, rames, hingga gudeg. Makanan cemilan pun mudah ditemukan. Ada mendoan khas Banyumasan, sale pisang, tahu sumedang, jenang krasikan, gethuk goreng, dan aneka gorengan. Dari sisi minuman, air mineral menjadi favorit pilihan penumpang saat dahaga, di samping bisa didapatkan kopi hingga minuman sereal.

Tidak hanya bisnis makanan dan minuman yang bisa ditemui. Bisnis jasa pun turut menyemarakkan agenda bisnis di Logawa. Penyapu lantai gerbong, penyemprot pengharum ruangan, persewaan bantal, dan pengamen turut ambil bagian sekalipun jumlahnya sedikit.

Kondektur kereta tampaknya ikut “iri” bila tidak ambil bagian. Penumpang tanpa karcis bisa menyetor ke kondektur dengan tarif lebih murah dari harga normal. Lumayan bisa buat nambah persediaan pangan keluarga. Rezeki nomplok bila ada penumpang yang turut membawa motor di kereta. Mungkin sang penumpang mengira kereta Logawa seperti kereta kargo dengan tarif murah. Memang murah tarifnya. Cukup menyelipkan minimal 100 ribu ke petugas, motor sudah bisa diangkut di gerbong. Lagi-lagi “peluang” bisnis buat kondektur.

Pemasaran bisnis di kereta memang susah susah susah alias tidak gampang. Banyak pedagang yang mondar-mandir antar gerbong menawarkan dagangan ternyata tidak cepat laku. Namun ada pula yang sedikit demi sedikit dagangan sebagian mereka yang laku. Ada pula yang kurang lebih dua jam langsung ludes dagangannya. Apa rahasia dia?

“Silahkan dilihat dulu getuk gorengnya. Murah, cuma seribu. Kalau ingin mencicipi silakan dibuka dan rasakan. Beli sepuluh gratis satu,” ujar penjaja getuk goreng sokaraja.

Resep larisnya penjualan getuk ini terletak pada keberanian penjual untuk memastikan produknya enak dan belum basi. Tidak banyak pedagang di dalam kereta yang mencoba cara penjual getuk bertubuh kurus nan tinggi itu. Hasilnya dari empat dos getuk seribuan yang ditawarkan, ludes dalam waktu kurang dari dua jam. Hebat! Dia pun masih bisa memberikan gratis getuknya kepada pengemis yang ikut mengais rezeki di Logawa. Sudah sukses berjualan, ternyata dermawan juga sang Bapak.


Begitulah dinamika bisnis di dalam kereta Logawa. LiputanOne hanya melakukan pengamatan dari Cilacap menuju Yogya. Bila diteruskan hingga ke Jatim barangkali masih banyak pelaku bisnis dari akar rumput lain yang menggantungkan rezekinya di dalam gerbong kereta. Semakin jauh kereta melangkah, makin fluktuatif jumlah penumpang dan pelaku bisnis yang ada.

Muncul pertanyaan, kira-kira berapa uang yang beredar selama satu kali trayek Logawa? Bila diasumsikan ada 100 pelaku bisnis dengan omset 100 ribu rupiah per orang, maka satu kali trayek ada uang beredar sekitar 10 juta rupiah. Kereta Logawa melayani dua kali trayek setiap harim sehingga asumsi per hari ada uang beredar 20 juta di sana. Kereta kelas ekonomi memang tidak bisa dipandang remeh. Ini baru kereta Logawa, belum kereta ekonomi lainnya.

Promosi, Cara Efektif Meningkatkan Omset

Pertanyaan tentang bisnis berprospek cerah sering ditanyakan pelaku maupun calon pelaku bisnis menjelang awal tahun. Para pakar keuangan disibukkan menjawab pertanyaan yang sama dan berulang setiap tahun. Tak terkecuali Safir Senduk, perencana keuangan, turut menjadi rujukan bertanya tentang masalah ini.

“Bisnis apa saja bisa dilakukan. Namun yang paling penting dalam bisnis adalah berpromosi dan meningkatkan omset. Promosi akan mampu meningkatkan omset bisnis,” ujar Safir Senduk.

Uya Kuya tidak meragukan hubungan antara promosi dengan kenaikan omset. Artis yang hobi berbisnis ini merasakan efek signifikan terhadap promosi yang dilakukannya dalam mendorong transaksi bisnis yang positif.

“Dulu waktu awal membuka bisnis, saya menghabiskan dana untuk leaflet saja sebesar 15 juta. Saya titipkan leaflet tersebut ke loper koran untuk dimasukkan ke dalam koran yang dikirim ke pelanggan. Saya masih keluarkan uang untuk uang lelah loper tersebut. Efeknya sangat terasa. Setelah pagi melakukan promosi, siangnya banyak orang berdatangan,” tutur Uya yang memiliki bisnis pisang goreng, siomay, dan showroom itu. “Saya berpromosi di sekitar tempat usaha untuk mengawali mencari konsumen,” lanjutnya.

Namun bukan bisnis bila tidak ada risiko. Uya pun pernah merasakan kegagalan di awal usahanya membuat bisnis makanan.

“Di awal perjalanan usaha, namanya bisnis makanan, jika tidak laku maka makanan dimakan sendiri. Namun setelah tiga bulan, bisnis makanan saya mulai menampakkan hasill,” ujar Uya.

Jadi bisnis apa yang cukup prospek di tahun 2009? Jawabannya adalah bagaimana sang pelaku usaha melakukan yang terbaik untuk bisnisnya. Berpromosi turut menjadi bagian tidak terpisahkan dalam berbisnis. (TvOne/LipOne)


Sesama Pebisnis Fotografi Jangan Gontok-Gontokkan

Persaingan antar kompetitor sesuatu yang lumrah. Namun bila antar kompetitor saling bekerjasama mungkin menjadi sesuatu yang aneh. Justru prinsip ini yang seharusnya diterapkan antara pebisnis studio foto digital.

“Keuntungannya besar. Bila suatu saat ada order lebih dan tidak bisa ditangani sendiri, maka bisa menggandeng studio lain untuk membantu menghandel,” ujar M. Yoserizal, pemilik dan fotografer Yosh Digital Photography, Solo.

Kerjasama antar studio ini juga menjadi indikator bangkit tidaknya dunia fotografi di suatu wilayah. Bila antar fotografer saling curiga dan menganggap sebagai musuh, maka perkembangan fotografi akan berjalan di tempat.

“Hidup matinya fotografi juga di tangan fotografer sendiri. Kalau mereka menganggap pelaku bisnis fotografi ini sebagai musuh, maka yang rugi sebenarnya dia sendiri,” kata Yosh, sapaan Yoserizal.

Tantangan bisnis studio makin besar seiring berkembangnya hape kamera. Sekarang ini kamera hape sudah menyentuh hingga resolusi 8 piksel, sekalipun kualitasnya belum sebagus kamera profesional. Orang menjadi lebih suka memotret memakai kamera sendiri bila dibandingkan datang ke studio

Ada penelitian yang menemukan kecenderungan orang meninggalkan studio foto karena keberadaan hape berkamera. Setidaknya minat orang untuk menggunakan studio foto berkurang 50 persen,” kata Yosh.

Kerjasama antara pelaku bisnis studio digital menjadi salah satu jalan mempertahankan pasar. Dengan menganggap kompetitor lain sebagai mitra akan menguntungkan kedua belah pihak.

“Di Jakarta, kerjasama semacam ini sudah biasa,” ujar Yosh.

Masih Luas, Peluang Bisnis Studio Foto Digital di Solo

Bisnis studio foto digital makin marak. Di Surabaya, hampir setiap ruko ada studio. Peluang Solo masih terbuka lebar.
Dokumentasi foto saat ini menjadi begitu penting. Bayangkan bila sebuah pernikahan tanpa ada foto dokumentasi. Momen yang barangkali hanya terjadi sekali dalam hidup tersebut tidak bisa dikenang secara detail

Alasan ini menjadi salah satu inspirasi bagi M. Yoserizal, pemilik sekaligus fotografer Yosh Digital Photography, untuk mendirikan studio foto digital pada 2004 lalu. Dia mencoba mengambil pangsa wedding untuk bisnis studionya.

“Saya mengawali bisnis dengan fotografi wedding yang saya kembangkan ke pelayanan lain. Banyak orang yang menikah ingin momennya diabadikan,” ujar Yosh, panggilan akrab M. Yoserizal.

Yosh mengaku terjun di pangsa wedding tidak mudah. Risiko yang dihadapinya lebih besar bila dibandingkan memotret di studio.

“Bedanya dengan foto studio, foto wedding pemotretannya mengikuti acara yang sedang berlangsung dan harus minimal dalam melakukan kesalahan. Kalau foto studio masih bisa shot ulang jika ada kesalahan dalam memotret,” kata lelaki yang berguru pada Darwis Triadi ini.

Dalam sebulan, Yosh bisa menangani dua hingga tiga wedding. Beragam paket ditawarkan mulai dari 300 ribu hingga 8 juta. Ini disesuaikan dengan budget konsumen.

“Perbedaannya pada jumlah foto yang akan diberikan dan kualitas editingnya,”ujar pemilik usaha dengan dua cabang dan 8 karyawan ini.

Yosh tidak kehabisan akal. Studio utamanya yang terletak di seputaran kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini turut membidik pangsa mahasiswa. Paket yang digulirkannya berupa pas foto, foto glamour, hingga foto wisuda. Konsumen mahasiswa ini penyumbang pendapatan terbesar kedua setelah wedding.

“Wisuda ini bersifat temporary. Di UMS ada tiga kali wisuda per tahun. Jadi saya manfaatkan even ini sebagai salah satu layanan di tempat saya dengan paket wisuda. Harga per paket 125 ribu dengan tiga foto yang diberikan kepada konsumen,” tutur Yosh. “Setiap ada even wisuda, saya bisa menangani 100 wisudawan. Itu masih ditambah mahasiswa yang membeli paket pas foto untuk ijazah sebelum wisuda diadakan,” lanjutnya.

Prospek bisnis ini masih cerah di Kota Solo dan sekitarnya. Belum banyak penyedia layanan foto digital yang menghiasi kota bengawan ini.

“Solo berbeda dengan Yogya dan Surabaya. Di kedua kota tersebut, studio foto sudah menjamur. Bahkan di Surabaya, hampir setiap ruko yang ada, terdapat studio foto,” ujar Yosh. “Solo masih sangat prospek untuk bisnis studio foto digital,” lanjut Yosh.

Modal yang diperlukan memang besar. Minimal 200 juta diperlukan untuk membeli peralatan untuk terjun di fotografi profesional. Soal layanan, pemilik usaha harus pandai mencari celah yang bisa ditembus dengan paket penawaran foto. Selain itu, nilai tambah dalam pelayanan maupun produk juga harus diperhatikan sehingga menjadi ciri khas tersendiri.

“Kalau saya berkomitmen untuk selalu menghadirkan inovasi dalam produk foto yang dihasilkan. Misalnya dalam paket wisuda, properti yang menjadi background wisudawan berupa properti asli dan bukan sebuah gambar. Kualitas editing juga selalu saya perhatikan untuk menjaga kualitas,” kata Yosh.