Home » , , , , » Box Unik Karya Ika dan Dwi

Box Unik Karya Ika dan Dwi

Suatu benda yang terbungkus rapi dan tampil beda, pasti sedap dipandang. Kado pernikahan, misalnya, akan terasa istimewa jika dibentuk dengan sentuhan unik, kendati sekarang ini kado amplop dianggap praktis dan lebih sesuai dengan kebutuhan pengantin baru.

Adalah Ika Yuliarti beserta temannya, yang suatu hari mau menghadiri pernikahan sahabat mereka. Ika ingin memberi kado kenangan, dan tinggal mencari wadahnya. Dia pun jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. “Gila. Box kecil saja harganya sudah Rp 40 ribu,” ujar Ika, seperti tak percaya.

Maka, Ika pulang dengan tangan kosong. Ia putuskan sendiri membuat box kado sembari memanfaatkan imajinasinya. Tak berhenti di sini, Ika “keterusan” mengemas barang jadi sebuah bisnis. Bersama Nadia, Adit, “Breng”, dan Ono, bisnis box packaging digagas. Bisnis ini pun bergulir, melayani pesanan kecil-kecilan teman-teman.

Langkah Dwi Cahyono, 30 tahun, berbeda pula. Awalnya ia sempat bingung lantaran tempat kerjanya lagi surut. Dia pun keluar. Di tempat kerjanya itu, Dwi menangani bisnis box packaging di bagian finishing. Karena kepepet, Dwi memaksakan diri terjun di bisnis yang sama.

Terus terang Dwi buta soal cara memproduksi. Tapi, tekadnya yang kuat memaksa dia untuk belajar. Dwi maupun Ika dan kawan-kawan memulai bisnis ini sejak setahun lalu. Ternyata, bisnis ini cukup diminati konsumen. Perseorangan maupun perusahaan perlu layanan packaging.

Packaging adalah bisnis pengemasan barang. Setelah dikemas, sebuah tampilan barang punya nilai tambah. Unik dan menarik. Seseorang menggunakan jasa box packaging, biasa untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, pengemasan kado, membuat wadah sepatu, wadah tata rias, wadah aksesoris, dan sebagainya. Bisnis packaging biasanya bukan produk massal.

Jasa packaging dipakai untuk menambah nilai promosi. Dwi, misalnya, menerima order dari perusahaan rokok berkait packaging promosi. Dibuatlah kemasan promosi rokok yang ada korek apinya. Produk yang akan dilaunching juga acap memakai jasa packaging, dan jumlah ribuan pieces.

Bahan utama box packaging adalah kertas. Yaitu jenis kertas vensy dengan ketebalan tertentu. Ini kertas impor yang cukup mahal. Per meter sekitar Rp 12 ribu – Rp 120 ribu. Semakin mahal, kualitasnya makin bagus. “Maka, saat bernegosiasi dengan klien, harus dipastikan dulu jenis kertasnya,” ujar Dwi.

Kunci utama sebelum mengerjakan pesanan adalah menemukan pola box. Biasanya klien minta dibuatkan box berbentuk tertentu. Keinginan itu diterjemahkan dengan sebuah pola utama. Jika sudah oke, pengerjaan berikutnya lebih mudah. Penemuan pola akan terasa lebih mudah jika sudah terbiasa.

Bahan finishing tiap cover berbeda-beda, tergantung kesepakatan dengan klien. Bahan untuk finishing, biasanya, berubah sesuai mode pada eranya. Tahun 1999-2002, misalnya, saat bisnis ini booming di Jakarta, bahan finishing berkonsep natural, setelah sebelumnya banyak memakai cover daur ulang. Bahan-bahan alam pun dipakai.

“Saya dulu memanfaatkan gedebog pisang dan daun waru untuk finishing. Konsep natural kemudian tergeser oleh konsep cover kain, sejak 2002-2006. Dan, sejak 2006 sampai sekarang, masih didominasi finishing dengan bahan kain dan natural,” papar Dwi yang menawarkan karya-karyanya di kaki lima saat mengawali usaha. Ia memprediksi pemakaian bahan daur ulang sebagai cover akan kembali ngetren tapi dengan konsep yang lebih beda.

Soal promosi, Ika dan Dwi mengandalkan getok tular. Sekali pun demikian, keduanya juga aktif mengenalkan usaha lewat internet. Ika memajang hasil karya bersama teman-temannya melalui facebook dan blog. Intinya, agar konsumen setidaknya tahu eksistensi mereka.

Dwi yang memulai usaha di kaki lima, sempat pula menjajakan barang kerajinan, sebelum link usahanya terbentuk. Rencananya, Dwi ingin kerja sekaligus usaha. Tapi, ketidakfokusan itu membuat usahanya keteteran, sebab pesanan packaging makin banyak.
Apa boleh buat, Dwi keluar dari kerja. Ia fokus ke bisnis packaging dengan menggandeng dua rekannya. Setelah itu, promosi lebih banyak memanfaatkan dari mulut para konsumen yang puas atas hasil kerjanya.

Modal usaha ini tidak banyak. Yang penting, otak harus encer untuk menelorkan berbagai kreativitas merancang box kemasan. “Modal saya dan teman-teman waktu itu Rp 900 ribu, urunan bersama teman-teman,” ucap Ika.

Modal Dwi malah hanya Rp 200 ribu. Kini, bisnisnya sudah menghasilkan laba pemasukan minimal Rp 6 juta per bulan. Itu belum termasuk pesanan insidentil di luar klien loyal.

Jadi, soal modal, menurut Dwi, bukan penghalang untuk terjun di bisnis ini. Bahkan, modal itu, sebenarnya bisa didapat dari klien sendiri. Mereka biasanya memberikan uang down payment (DP) yang bisa dipakai sebagai modal kerja. Soal bahan mentah, tidak perlu dana besar lagi.

Artinya, peluang ini menjanjikan. Namun kualitas jangan sampai disepelekan. Bisnis ini sangat rentan terhadap komplain konsumen. Dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan tinggi. Jika kurang rapi, bisa-bisa konsumen menolak membayar dengan harga penuh.
Itulah yang dialami Ika. Dia harus menanggung risiko gara-gara ada box packagingnya yang tidak rapi. Kesepakatan awal, klien memesan 500 box dengan harga Rp 4 ribu per item. Setelah ada komplain, klien hanya mau membayar Rp 3.800 per box. Artinya, Rp 200 lebih murah dari kesepakatan.

“Tantangan bisnis box packaging memang ada pada tipe klien. Wajar bila klien tidak terima ketika hasil karya kita kurang memenuhi standar. Tapi, jika sudah ketemu klien bertipe perfeksionis, itu yang bikin kerjaan jadi tambah lama,” keluh Dwi.
Klien jenis ini seringkali melakukan perubahan mendadak, padahal box yang dibuat sebelumnya sudah sesuai kriteria pesanan. “Namanya juga klien, saya pun harus sabar mengikuti kemauannya,” imbuhnya.

Tidak ada patokan khusus soal harga box per item. Soalnya, tiap pesanan membawa konsekuensi tentang harga bahan, jenis bahan, detail, sampai finishing. Dan, tiap pesanan berbeda spesifikasi. Maka, komposisi harga jual pun negosiasi.
Dwi mengaku harga jual boxnya dua kali dari harga pokok produksi. Sedangkan Ika, enggan menyebutkan rumus harga jualnya. Ia hanya menyebut karyanya dijual mulai seribu sampai ratusan ribu rupiah.

Yang pasti, bisnis ini berpotensi jadi tumpuan hidup. Jika ditekuni, bisa pula menjadi sebuah usaha besar. “Kuncinya harus sabar, kreatif, produk yang berkualitas, dan selalu mengikuti perkembangan selera konsumen,” ujar Dwi.

Bisnis box packaging cukup ramai di Jakarta. Namun, di luar kota besar, masih jadi tantangan untuk dikembangkan. Anda berminat mencoba?
(Dimuat di Majalah Saudagar Edisi Oktober 2009)



Comments
0 Comments

0 orang bicara: