Sekalipun terbentang jarak sangat jauh, namun tidak menyurutkan langkah seorang pemuda asal Cina untuk belajar Islam di Indonesia. Pemuda ini bernama Abdullah bin Thalha. Dia berasal dari Propinsi Daerah Otonomi Xinjiang, Cina. Kedatangannya di Indonesia atas beasiswa dari sebuah lembaga Islam yang berlokasi di Dubai.

Abdullah saat ini mengambil kuliah di Pondok Pesantren (Ponpes) Abubakar Ash Shidiq, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kehadirannya di Indonesia sebenarnya sejak 1,5 tahun yang lalu. Satu tahun dihabiskannya untuk belajar bahasa arab di Ponpes Ali bin Abi Thalib, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Di Surakarta, dia hampir setengah tahun ini mendalami bahasa arab lebih lanjut.

“Bagi saya belajar bahasa arab itu sangat penting. Al Quran itu berbahasa Arab dan akan lebih mudah dipahami jika kita mempu berbahasa Arab,” ujar Abdullah kepada LiputanOne

Abdullah punya alasan tersendiri memilih Indonesia sebagai tempat belajarnya. Dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia, Abdullah yakin jika lingkungan di Indonesia cukup bagus.

Selain itu, “Untuk bisa belajar di Arab Saudi pun perlu belajar bahasa arab dulu selama dua tahun. Buku-buku yang dipakai di sini pun juga berasal dari arab. Begitu pula dengan sistem belajarnya, juga sama dengan di Universitas Imam Su’ud, Riyadh (Arab Saudi). Jadi kira-kira belajar bahasa arab di sini, sama dengan layaknya belajar di Arab. Ini sebagai persiapan sebelum masuk kuliah,” ujar Abdullah yang mulai lancar berbahasa Indonesia.

Abdullah sebenarnya ingin langsung belajar ke Arab Saudi. Namun untuk bisa langsung ke sana, harus melalui persaingan yang ketat.

“Dengan belajar di Solo ini, begitu lulus bisa langsung meneruskan seleksi ke Arab,” kata pemuda tampan bercambang tipis ini. “Insyallah saya ingin melanjutkan ke Arab Saudi. Atau paling tidak di negara arab. Karena belajar bahasa arab harus berada di lingkungan arab juga,” kata Abdullah menambahkan.

Dorongan Abdullah untuk mempelajari bahasa arab dan Islam lebih dalam, dipengaruhi oleh lingkungan sekitar di tempat asalnya. Di Xinjiang, hampir semua penduduk memeluk Islam. Keluarga Abdullah, yang bersuku Uigur, semuanya muslim. Dia mempunyai dua adik kandung dan orang tua yang mendukungnya belajar hingga ke Indonesia. Selain itu, Abdullah memang telah memiliki ketertarikan mempelajari bahasa arab sejak umur enam tahun.

Sekalipun masyarakat di lingkungan asal Abdullah mayoritas muslim, akses untuk mendapatkan ilmu tentang Islam sangat sulit. “Untuk bisa belajar ilmu agama, kami harus mendatangi pemuka-pemuka di sana. Masih sedikit pemuka yang benar-benar memahami Islam,” ujar Abdullah. “Selain itu masyarakat di sana, sekalipun mayoritas muslim, kurang kuat Islamnya. Masih banyak kemaksiatan yang dilakukan. Seperti minum khamr (minuman beralkohol –red) atau tidak sholat. Berbeda dengan kondisi pada zaman shahabat atau ulama’ dulu. Meski mereka kadang tidak mempunyai harta, tapi iman mereka sangat kuat,“ tambah lelaki kelahiran 6 Desember 1985 itu.

Melihat kondisi tersebut, Abdullah mempunyai cita-cita untuk membenahi masyarakat di sekitar tempat asalnya. Abdullah berkomitmen untuk kembali ke Xinjiang selepas menempa ilmu bahasa arab dan Islam dari perantauan.

“Minimal saya belajar Islam untuk diri saya. Namun saya juga akan mengajarkan kepada adik-adik dan keluarga saya. Selanjutnya saya akan lakukan sebisa saya untuk berdakwah secara luas,” ujar santri yang hafal setidaknya lima juz Al Quran ini.

Abdullah menilai lingkungan belajarnya di Yogyakarta, dan sekarang di Solo, cukup kondusif. Dia merasakan keramahan saudara muslim lainnya sekalipun berbeda suku dan negara.

“Mereka cukup ramah dan bersahabat menyambut saya, juga jarang marah-marah,” ujar Abdullah sambil tertawa. “Bahkan saat saya datang ke Indonesia, saya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Dari teman-teman inilah saya mulai belajat bahasa Indonesia,” terang Abdullah.

Abdullah mempunyai penilaian sendiri terhadap kondisi muslim di Indonesia, terutama Yogyakarta dan Solo. “Saya banyak menemui muslim yang berkomitmen seperti shahabat Rasulullah. Tapi saya juga menemui muslim yang agamanya kurang,” kata Abdullah. Dia juga menilai munculnya aliran sesat di Indonesia sangat dipengaruhi oleh sistem demokrasi yang diterapkan. “Demokrasi itu membuat segalanya serba boleh. Demokrasi tidak bisa kompromi dengan Islam. Dalam Islam, perlu diteliti boleh tidaknya sesuatu itu dilakukan,” ujar Abdullah menjelaskan.

Melihat hal ini, Abdullah turut berpesan kepada saudara muslim di Indonesia. Dia memandang kaum muslim di Indonesia perlu mensyukuri diberikan kemudahan mencari ilmu agama Islam.

“Di Xinjiang, mencari ilmu agama harus aktif menemui kyai,” ujar Abdullah. “Oleh karena itu, marilah mensyukuri kenikmatan yang diberikan Allah ini agar Allah makin menambah nikmat. Jika kita tidak bersyukur, maka Allah akan mencabut kembali nikmat yang telah diturunkanNya,” pungkas Abdullah.

Share

Comments (4)

On 14/2/09 18:17 , Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, cakep juga nih cowok!

kayak bukan orang china

 
On 18/2/09 09:04 , kbh mengatakan...

wekeke, si doel kena liputan juga.. btw sekarang udah ga ada di indonesia tuh ..
di yaman kali ya, terakhir konfirm...
btw, nice posting. bahasanya bagus kaya di surat kabar

 
On 18/2/09 09:12 , LiputanOne mengatakan...

@kbh
weh si doel udah ke Yaman tow.hehe. aq terakhir wawancara dia pas ramadhan. ni repost dari blogku sebelumnya.

 
On 16/9/09 21:31 , Anonim mengatakan...

Ajarin saya bahasa arab dong :D

--
kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang