Home » , , , , , » Isu Keamanan Masih Hantui Pariwisata Solo

Isu Keamanan Masih Hantui Pariwisata Solo

Pasca teror bom Bali dan isu ancaman keamanan yang melanda Indonesia, masih menjadi hambatan dalam pariwisata di Indonesia. Termasuk pada pariwisata di Solo, isu keamanan dinilai mampu menurunkan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara di Kota Bengawan ini.

Salah satu traumatis pelancong luar negeri terkait dengan adanya sweeping hotel oleh sebagian ormas beberapa waktu lalu. Sweeping ormas yang dimaksudkan untuk mendata warga negara Amerika tersebut telah menurunkan tingkat kunjungan wisata hingga 90 persen di Solo.

“Isu kemanan menjadi isu utama yang menjadi kendala dalam pariwisata. Solo sendiri sebenarnya sudah aman. Tapi yang membuat resah adalah keberadaan “isu keamanan” yang salah ini,” ujar Suseno Hadi Parwono, Direktur Mandira Tor & Travel, Solo.

Potensi pariwisata di Solo Raya sebenarnya sangat potensial. Branding Solo “Spirit of Java” cukup tepat disematkan bagi Solo dengan tidak melupakan penggarapan potensi pariwisata di wilayah sekitarnya.

Tepat sekali bila Solo dikatakan Spirit of Java. Namun bagi saya, untuk pariwisata, slogan ini kurang pas. Saya lebih suka membranding Solo dengan “The Real Java” untuk memasarkan pariwisata,” ujar Seno, sapaan Suseno Hadi Parwono. “Kita sering mendengar, kalau orang bilang mau ke Jawa, maka kota yang identik adalah Solo. Orang Jakarta bilang kalau mau Jawa, yang ada di pikiran mereka adalah Solo,” lanjut Seno mendefinisikan slogan “The Real Java”.

Pariwisata di Kota Solo dan sekitarnya cukup banyak dan menjanjikan. Jika Solo memiliki keraton atau wisata kuliner Galabo, maka Sragen mempunyai objek wisata Sangiran yang mampu menceritakan kehidupan masa lampau dari situs purbakala. Bila berkunjung ke Sukoharjo, akan ditemui industri souvenir yang banyak dijual di Pulau Dewata, Bali. Boyolali tidak ketinggalan. Pesona Gunung Merapi dan seni kotekan lesung menjadi andalan di wilayah penghasil susu ini. Begitu pula Karanganyar, Wonogiri, dan Klaten, memiliki objek pariwisata andalan sendiri.

“Namun perlu adanya kesadaran dari semua kalangan, baik itu pemerintah daerah, stakeholder, hotel, maupun pengelola tempat wisata untuk mau memajukan pariwisata. Dan tidak kalah penting adalah masyarakat harus peduli dengan sadar wisata. Masyarakat Solo masih kalah dalam sadar wisata dengan masyarakat Jogja,” ujar Edy Suryanto, Managing Director KIA Tour, Solo.

Sadar wisata diwujudkan dengan kepedulian semua pihak untuk memajukan pariwisata. Kelestarian objek wisata bukan hanya terletak di tangan pemerintah maupun pengelolanya, namun masyarakat juga harus turut berperan.

“Termasuk juga masyarakat ikut membantu keamanan sehingga keadaan lebih kondusif. Ketika ada wisatawan datang, masyarakat perlu menyambut atau welcome dengan mereka, sesuai budaya Solo yang santun. Terkadang ada orang yang melihat bule malah jadi semacam peluang untuk malak,” kata Edy yang memulai usaha agen travel sejak 2005 lalu.

Pencitraan kembali untuk menghilangkan isu ancaman keamanan ini tidak mudah. Sosialisasi Solo sebagai tempat pariwisata yang aman, memerlukan juga keterlibatan pihak asing. Mereka menjadi agen untuk mengabarkan kepada masyarakat di negaranya bahwa Solo sebenarnya kota yang aman.

“Cara yang cukup bagus untuk mengubah persepsi orang luar negeri agar percaya kalau Solo sudah aman adalah dengan mengundang travel writer (wartawan wisata –red) ke sini. Kita suruh mereka untuk melihat sendiri keadaan di Solo dan menuliskan ke media mereka masing-masing kondisi yang ada,” terang Seno.

Seno menambahkan, orang luar negeri akan lebih percaya pada tulisan wartawan di negaranya sendiri. Cara ini lebih efektif daripada masayarakat luar negeri mendengarkan kondisi keamanan dari orang Indonesia, yang sangat terkenal sekalipun.

“Cara lain adalah bekerjasama dengan berbagai asosiasi untuk membuat even berskala internasional. Dengan even, mereka jadi paham kalau Solo sebenarnya aman. Kalau sekedar ngomong saja, tidak akan berefek bagi mereka,” pungkas Seno.

Comments
7 Comments

7 orang bicara:

budiawanhutasoit said...

demmokrasi yang kebablasan ato polisinya ayam sayur??
bisa dibayangkan kalo semua hotel di Solo tutup, berapa banyak yg ajdi pengangguran..
jangan2 dari anggota ormas itu ada adik, kakak, abang, ibunya yg kerja di hotel...dan bisa2 jadi pengangguran..

afie said...

solo kan unik...

FATAMORGANA said...

biarkan orang2 melempar isu, telinga harus disetel setenang mungkin.

Ndhel said...

Kalau cuma isu toh nanti akan hilang dngan sndirinya! Biarkan waktu yg berjalan

attayaya said...

isu sulit dihilangkan
bakal ada aja org lain yang nambahin bumbu bahwa indonesia tidak aman, perlu adanya sweeping, maksiat, dan macam2 isu lain

Webmaster said...

padahal Amrozi CS dah dihukum mati, berarti masih belum aman juga nih... travel warning...

goenk baik said...

waduh hantunya tambah satu to sekarang?
kalo keamanan jadi hantu sapa yang ronda nanti ya hehehe...:)